Sahabat
We're talking about marriage. Mau semapan apa pun seseorang, yang namanya nikah bukan soal materi aja.
Elang melangkah keluar dari mobil dengan ponsel di genggamannya. Setelan jas yang menempel sempurna pada tubuh atletisnya masih rapi mengingat ia baru saja pulang dari sebuah meeting. Masih menundukkan kepala menghadap layar ponselnya, Elang tidak sadar bahwa ibunya telah berdiri di depan pintu sambil bersedekap.
“Jalan tuh dongak,” decak wanita paruh baya tersebut. “Taruh HP-nya, El. Kebiasaan.”
“Halo, Mam,” sapa Elang seraya menyunggingkan senyum manisnya. Pemuda itu tahu bahwa wanita bernama Ari yang ia sebut Mami tersebut akan dengan mudah luluh hanya karena itu. “Jangan cemberut terus, wrinkles-nya mulai kelihatan, tuh.”
“Eh, dijaga mulutnya,” Ari mencubit pipi Elang lembut, “Masuk, gih. Bersih-bersih terus—”
“Papi mana?” Elang melenggang masuk, mengabaikan perintah ibunya. “Ada berkas yang butuh diteliti lagi. Papi kebiasaan amat teledor.”
“Kamu tuh, ya,” Ari menggelengkan kepala gemas, “Mandi dulu terus turun lagi. Mami udah masak.”
“Papi di ruangannya, nggak?”
“Erlangga.” Mendengar nama lengkapnya, Elang berbalik badan dan mendapati Ari dengan ekspresi kesal. “No work stuff for tonight. Menurut kamu kenapa Mami maksa pulang kalau bukan karena hal yang lebih penting dari kerjaan? Biasanya Mami juga nurut aja kalau kamu bilang nggak bisa pulang.”
“Mi—”
“Udah sana, cepet mandi terus langsung turun. Awas aja kalau buka laptop dulu. Ngerti, Bang?”
“Gimme five minutes with Papi, okay? Beneran lima menit doang, Mi, mumpung ketemu.”
“Erlangga.“
“Oke, oke. Tapi habis ngobrolin agenda Mami aku mau begadang sama Papi, oke?”
“Ck,” Ari memilih tidak menjawab melainkan langsung melenggang menuju dapur, meninggalkan putranya di bawah kaki tangga.
Lagi-lagi dengan tangan serta mata yang terfokus pada ponselnya, dengan luwes Elang menuruni tangga dan menuju ke ruang makan. Rafka, ayahnya, telah duduk santai sembari menyesap teh. Wajah Rafka seketika berubah sumringah melihat sahabatnya bergabung dengan mereka. Walaupun bekerja di perusahaan yang sama, kesibukan keduanya kerap kali menjadi penghalang untuk bertemu.
“Oi, Bang,” sapa sang ayah, “Tadi sore meeting sama sekretarisnya Pak Bruna, ya? Gimana?”
“Gimana apanya? Orang sekretarisnya nggak becus gitu. Dia nggak bawa apa-apa—”
“Stop it or be gone,” sela Ari. “Gimana sih, Pi? Tadi kan udah janji nggak bakal ngomongin kerjaan.”
“Aduh, Mi, ini mah basa-basi aja. Tenang dong, Sayang, nanti kita ngomong masalah itu, ya?”
“Masalah apa, sih?” tanya Elang tak acuh sambil mulai makan. “Kenapa serius banget? Sepenting itu?”
“Penting. Makanya nanti kamu pay attention ya, Bang. Jangan anggap bercandaan.”
Mengedikkan bahu santai, Elang pun hanya mengiyakan. Pemuda tersebut rela melakukan apa saja asalkan setelah itu ia bebas mengobrol dengan ayahnya.
Suasana di ruang makan keluarga Mahardika pun terasa nyaman dan tenang untuk sesaat. Obrolan-obrolan ringan yang dimulai Ari pun sukses membuat mereka berbagi cerita kepada satu sama lain, dan sejujurnya, Elang memang merindukan suasana semacam itu. Kesibukannya membuat pemuda tersebut jarang pulang, namun terkadang gengsi dan ego besarnya menghalanginya mengucap kata rindu.
“Waduh, begah banget, Mi,” desah Rafka setelah menyuapkan sendok terakhir. “Sering-sering deh masak gini, masa pas ada Elang doang?”
Elang hanya tergelak, sementara Ari balas mencibir, “Makanya jangan kebanyakan kasih Elang kerjaan. Kalau dia rutin pulang, masakan gini juga rutin ada.”
“Udah, udah,” kekeh Elang, “Langsung aja, Mi.”
“Bentarlah, Bang, biar makanannya turun dulu.”
“Aku mau bales e-mail, Mi.”
“Kamu tuh bener-bener—”
“Oke, udah,” Rafka pun menengahi. “Langsung aja kan kata kamu, Bang? Oke, dengerin baik-baik... kamu mau dijodohin.”
“What?!” seketika Elang berdiri dengan ekspresi terkejut yang lucu. Kemudian dengan cepat ia tertawa terpingkal-pingkal, membuat kedua orangtuanya mengerutkan dahi heran. “So funny, guys. Gosh, you got me there for a second.“
“Bang—”
“No, really, Pi, I think your jokes have been improved. Udahlah, yuk, aku mau nunjukin beberapa berkas.”
“Cupu banget sih kamu, Bang,” ejek Ari, “Masa gini aja udah denial? Tadi katanya mau langsung aja? Udah langsung diomongin malah nggak terima. Ck.“
“Karena yang kalian omongin nggak masuk akal? Karena nggak mungkin kalian ngelakuin sesuatu sekuno itu? Karena—”
“Karena kamunya aja yang emang nggak mau nikah?” sela Ari. “Abang, coba duduk dulu. Kita ngobrol baik-baik, oke? Dengerin Mami dulu.”
“I can't, Mi. You know I can't.“
“Bukan nggak bisa, tapi nggak mau, kan?” tanya Rafka. “Ada perbedaannya, Bang. Duduk dulu sini, jangan ngambek, ah.”
“Pi—”
“Inget Tante Cho, Bang?” potong Ari lembut. “Inget kan sahabat Mami itu? Sahabat seperjuangan Mami yang sama-sama susah punya anak padahal udah cukup lama nikah. Inget, Bang?”
“What's up with her?“
“Dih, yang sopan,” Ari melempar selembar tisu ke arah putranya, “Duduk dulu.” Elang pun menurut dan duduk. Ari melanjutkan, “Kayaknya kamu udah bosen denger cerita ini, tapi emang dulu Mami sama sahabat Mami, si Tante Cho, susah punya anak. Terus biasalah suka halu, asal ceplos dan bilang kalau dikasih anak beda gender bakal dijodohin. Pada akhirnya kami hamil, bedanya satu tahun aja, kamu duluan yang lahir. Pas masa-masa hamil, kami nggak mau cek apa gender kalian, jadi waktu kalian lahir, semua itu jadi surprise, Bang. Dan ternyata bener aja, kalian beda gender. Dan sekarang setelah kalian udah jadi anak-anak yang dewasa, baik, dan sukses, I think it's time to do it.“
“Do what? You're gonna make me marry her? Hell, nah.“
“Language, Abang.“
Kepala Elang penuh sesak akan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terbersit di sana. Sudah cukup ia selalu dibuat pusing oleh urusan pekerjaan beserta orang-orang licik nan ambisius di dalamnya, ia tidak butuh tambahan seperti misalnya seorang istri yang akan berkekspektasi tinggi tentang dunia pernikahan yang indah bersama laki-laki seperti dirinya. Elang tidak pernah menjalin hubungan serius, satu-satunya hubungan yang ia punya hanya bersama satu perempuan demi menyalurkan hasratnya. Bahkan, kesibukan pula yang menjauhkan mereka saat ini.
“Jadi kamu inget siapa anaknya Tante Cho, El?”
“Iya,” jawabnya singkat sambil mencoba mengingat nama gadis itu, “Sarah, bukan?”
“Saradisa.” Ari mengangguk. “Dulu Mami pengin banget kalian deket terus sahabatan gitu, tapi kamu selalu sibuk sendiri. Padahal kalau kalian udah deket dari awal, perjodohannya pasti lebih gampang.”
“Aku pusing, Mi,” desah Elang. “Aku hargai janji yang Mami sama Tante Cho bikin dulu. Tapi ini juga berat buat aku, Mi. We're talking about marriage. Mau semapan apa pun aku, yang namanya nikah bukan soal materi aja. You both should know that, right?“
“Of course, Bang,” sela Rafka, “Papi tahu ini bakal berat, but I'm sorry, this is inevitable. Mami kamu aja udah ngurus semua, kamu sama Disa tinggal fitting sama sebar undangan.”
“What?!” Elang kembali berdiri, kedua tangan menjambak rambutnya frustasi.
“Good job, Pi,” sindir Ari. “Elang sayang—”
“Nope.” Elang menggeleng cepat, kakinya perlahan mundur. “Jangan. Jangan ngomong apa-apa lagi, ya? Aku capek. Aku mau istirahat.”
Dengan perasaan berkecamuk dan bayang-bayang suram akan masa depannya menjadi seorang suami, Elang pun naik ke kamarnya. Dan untuk pertama kalinya, ia jatuh tertidur tanpa memikirkan materi untuk meeting esok hari.