Danau

Bohong namanya jika Arka tidak merasa gugup. Ia tidak mengerti bagaimana ia bisa seberani itu untuk mengajak seorang Kalani “keluar.” Arka cukup tahu diri bahwa jika disandingkan dengan Kalani, ia bukanlah siapa-siapa. Namun pertanyaan Kalani beberapa waktu lalu membuatnya sadar dan memutuskan untuk tidak menahan diri lagi.

Kalau emang lo mikir gue sebaik itu dulu, kenapa mundur? Kenapa jadi nggak mau kenalan lagi? Kalau lo mikir gue sebaik itu, harusnya lo tahu gue bakal nerima lo.

Dan itulah yang Arka putuskan. Ia dengan gegabah membuat rencana last minute untuk mengajak Kalani melepaskan rasa penat. Hanya saja Arka terpaksa harus berbohong. Tempat yang mereka akan tuju bukan sebuah tempat baru, melainkan sebuah danau yang Arka sudah puluhan kali kunjungi kapan pun ia merasa lelah. Ia hanya tidak ingin membuat Kalani salah paham dan berpikir yang macam-macam, yang alhasil akan membuat gadis itu menjauh. Arka tidak mau.

Sorry, udah nunggu lama, ya?” tanya Kalani sembari tergesa-gesa menuruni tangga rumahnya. Lamunan Arka pun buyar. “Lo sih nggak ngabarin kalau mau OTW.”

“Dih,” cibir Arka, “Lo yang kesiangan terus gue yang salah gitu?”

“Hehe.”

“Udah siap, belum? Mau ngapain lagi?”

“Siap!” senyuman Kalani terukir lebar, dan sensasi aneh muncul di dada Arka. “Lo udah ketemu Mami sama Papi, kan? Udah berangkat ya mereka?”

“Iya. Tadi Mami lo yang bukain gerbang, terus mereka langsung cabut.”

“Ya udah, yuk!”

Mereka hanya perlu 20 menit untuk menempuh perjalanan ke “danau pribadi” Arka. Sepanjang perjalanan, Kalani tidak bisa diam. Awalnya Arka merasa risih karena cowok itu sudah terbiasa berkendara dengan tenang, namun ketika Kalani diam, Arka merasa kosong. Ia pun memancing sebuah topik baru dan gadis itu dengan senang hati melanjutkan hingga mereka tiba.

“Ka...”

Arka menoleh dan mendapati mata Kalani berbinar-binar. Danau ini terletak di kawasan perumahan elit, yang anehnya, dibuka untuk umum. Sebenarnya danaunya tidak terlalu luas, namun fakta bahwa danau tersebut terletak di tengah-tengah taman bunga menambah keindahannya. Ada dua pohon besar yang memberi kesan rindang, dan di sekeliling taman terdapat banyak gazebo kecil untuk berteduh. Di sekeliling danau pun ditanami berpetak-petak rumput lembut agar nyaman ketika ditempati. Biasanya, Arka akan berbaring tepat di pinggir danau dengan kaki terulur masuk ke air, sambil ditemani dengan alunan instrumen klasik atau sebuah buku. Ini benar-benar kamar kedua bagi Arka.

“Suka?” tanyanya lembut.

Kalani maju selangkah demi selangkah seraya menikmati pemandangan, sesekali menyentuh bunga warna-warni yang mereka lewati. Gadis itu juga memetik beberapa rumput serta bunga liar yang kemudian diselipkan pada notebook-nya.

“Buat apa?” tanya Arka.

“Gue suka tanaman kering. Kalau yang liar gini lebih lucu biasanya.”

“Cara ngeringinnya gimana? Dibiarin aja gitu?”

“Kalau gue, biasanya cukup diselipin ke buku. Terus simpen aja, terserah berapa lama. Kadang kalau gue lupa, bunganya udah sampai hitam banget,” Kalani tergelak kecil, “Tujuan diselipin di buku juga biar sekalian jadi pembatas, sih. Lumayan. Kayaknya 80% koleksi buku-buku gue ada bunga keringnya. The Binding yang lo pinjem gimana? Ada?”

Posisi Kalani sekarang telah berjongkok di tanah, sambil dengan hati-hati memetik sekumpulan tanaman liar. Ia dengan lembut menepis bunga-bunga yang memang bagian dari taman agar tidak terinjak atau tersentil jemarinya. Melihat itu, sensasi aneh kembali muncul di dalam dada Arka. Ia tidak mengerti apa, namun cowok 18 tahun tersebut seperti tidak bisa berpaling.

“Ka?” Kalani menoleh ke belakang, mendapati Arka memerhatikan sosoknya dengan intens. “Kok diem? Kenapa ngelihatin gue kayak gitu?”

Arka berdeham, telinganya terasa panas.

“Uhm, n-nggak,” gagapnya, “Gue ke sana duluan, ya? Kalau lo masih mau keliling, keliling aja. Gue tunggu di pinggir danau.”

Sambil melepas alas kakinya ketika sudah menemukan spot teduh, mata Arka kembali menangkap sosok Kalani. Gadis itu sedang menulis sesuatu pada notebook-nya masih sambil jongkok. Kardigan kremnya terlihat menyapu tanah, namun ia tidak terlihat peduli. Ketika Kalani bangkit, Arka buru-buru mengalihkan pandangan.

“Gila, enak banget di sini,” Arka mendengar suara Kalani mendekat, “Adem, nyaman banget. Eh, lo lepas sepatu?”

Kalani telah sampai dan langsung mengambil duduk di samping Arka. Mereka terlalu dekat, bahu keduanya saling bergesekan, dan Arka merasa sedikit panik.

“Gue juga, ah. Kayaknya enak main air.”

“Suka banget di sini?” lanjut Arka.

“Banget! Tempatnya teduh, terus yang gue suka adalah taman ini nggak terlalu besar, jadi terkesan excluded gitu. Biasanya emang sesepi ini, ya? Padahal ini weekend, harusnya enak buat refreshing.

“Lo nggak inget kita lagi di mana sekarang? Kalau orang kaya mau refreshing mah tinggal terbang ke Bali.”

Lagi-lagi Kalani mengeluarkan gelak tawanya yang khas, dan Arka harus bergeser demi menciptakan jarak di antara mereka. Baginya, ini sudah terlalu berlebihan. Ada yang salah pada dirinya.

“Lebay. Ya udah, mau ngapain kita? Gue bawa notebook sama novel.”

“Lo nggak tanya gimana gue nemuin tempat ini?” tanya Arka tiba-tiba.

“Dih, mau banget ditanya?”

“Sialan,” Arka terkekeh, “Biasanya kan lo kepo.”

“Heh, Arshaka, kapan gue kepo?”

“Biasanya kalau gue ngilang.”

“Ya itu lo udah nyebutin alasannya. Kalau lo ngilang. Lagian jadi anak aneh banget, suka tiba-tiba nggak ada.”

“Sebelumnya kalau gue nggak ada lo juga nggak notice.

Suasana pun berubah menjadi canggung. Arka tidak berniat untuk berujar sarkastik, namun ia keceplosan. Dapat dirasakan bahwa tubuh Kalani menegang, dan dari ekor matanya, Arka menangkap Kalani sedang menunduk.

Sialan, umpat Arka dalam hati.

“Kalani—”

“Lo tuh kenapa sih, Ka? Lo dendam banget sama gue? Salah gue gitu kalau gue nggak pernah ngajak lo ngobrol?”

“Kalani—”

“Berminggu-minggu kita bareng, gue sadar kalau lo bukan tipe orang pendiam yang nggak bisa bikin topik. Lo juga bukan orang pemalu. Emang dasarnya lo nggak mau nyoba aja, dan sekarang lo ungkit terus.”

“Nggak, Kalani—”

“Gue seneng lo terbuka, gue seneng bisa kenal lebih dalam sama 'Si Culun' yang jadi bahan bully-an sekelas, kadang juga sesekolah kalau Jerome lagi gesrek. Tapi gue nggak seneng kalau lo udah mulai 'bercanda' soal sesuatu yang lo ciptain sendiri.”

Kalimat terakhir Kalani terasa seperti tamparan bagi Arka. Gadis itu benar, Arka sendiri yang memutuskan untuk tidak bergaul dengan siapa pun. Diam-diam, Arka masih menyimpan dendam karena di-bully perihal sepeda pada kelas 10. Padahal, beberapa bulan setelah itu, semuanya terlupakan. Ada beberapa murid yang dengan baik hati mengajak Arka mengobrol atau sekadar pergi ke kantin, tapi Arka selalu menolak dengan ketakutan bahwa mereka hanya kasihan. Pada akhirnya, karena ia dengan “angkuh” menjauh dari teman-temannya, pem-bully-an pun kembali dilakukan. “Si Culun” menjadi nama baru Arka dan nama tersebut terus melekat hingga sekarang kelas 12.

“Maaf,” lirih cowok itu. Tiada hal lain yang bisa Arka ucapkan selain kata maaf. Maaf kepada dirinya sendiri karena menjadi pengecut, dan maaf kepada Kalani karena ia tidak pernah menghargai usaha gadis tersebut untuk membuatnya terbuka. “Maaf.”

“Jangan.”

“Maafin gue, Kalani.”

“Nggak, Arka.” Tegas Kalani. “Gue marah, tapi gue sadar gue nggak bisa nekan lo juga. Maaf.”

Arka seketika menoleh. Hal terakhir yang ia inginkan adalah mendengar permintaan maaf terselip keluar dari bibir teman barunya itu. Teman baru yang dengan cepat menyelinap masuk ke dalam hidup Arka, teman baru yang dengan lancang menciptakan perasaan-perasaan asing dan aneh di dalam diri Arka.

“Bilang maaf sekali lagi, gue cemplungin ke danau.”

Mata Kalani membelalak. “Arshaka!”

Arka terbahak, bersyukur es di antara mereka telah mencair.

“Gue inget kita ada ujian berenang pas kelas 11. Lo nggak pernah ikut kelas olahraga kalau materinya berenang, terus tiba-tiba langsung ujian aja. Malu-maluin banget pas praktik.” Arka tidak bisa menahan gelak tawanya, dan suaranya mengencang ketika mendapati wajah Kalani berubah semerah tomat. “Merah amat mukanya, mbak.”

“Ih, Arka!” Kalani cemberut, dan dada Arka serasa diremas sangking gemasnya. “Diem! Gue malu banget. Mana sampai sekarang gue masih nggak bisa berenang.”

“Hah, serius?!” cowok itu semakin terbahak, menyebabkan Kalani merajuk dan beranjak dari tempat mereka. “Eh, Kalani, ke mana? Oke, oke. Maaf. Sini aja, Kalani.”

“Bodo.”

“Hahaha, bercanda. Sini, ah. Jangan ngambek. I'm sorry.

“Gue mau baca aja di gazebo. Bye, jelek.

“Dih,” Arka tergelak, “Ya udah, gue ikut. Mau nulis puisi.”

“Ya.”

“Jangan ngambek.”

“Ya.”

“Jangan ngambek, cantik.”

Kalani menghentikan langkahnya, berbalik badan, dan mendapati Arka berdiri dengan senyum simpul.

“Nggak usah gitu, Arka.”

“Nggak usah apa, Kalani?”

“Ngomongnya dijaga, ih!”

“Iya, cantik.”

“Arshaka!”

Tawa Arka pun menjadi nyanyian yang mengiringi mereka pagi itu.