Good Morning

Kalani menggerutu dalam hati ketika Arka tak kunjung datang. Masalahnya, mata pelajaran pertama mereka pagi ini adalah Sosiologi, yang mana gurunya terkenal killer. Kalani, yang memang terkenal teladan, tidak pernah punya masalah dengan Pak Satria, dan gadis itu ingin mempertahankan reputasi baik tersebut.

“Kak, belum berangkat?” Nia, ibu Kalani, berjalan menghampiri gadisnya dari dapur sambil membawa secangkir teh yang mengepul. “Jam segini biasanya macet banget. Nggak apa-apa?”

“Arka lama, Mi,” gerutu Kalani. “Padahal biasanya dia rajin. Nyebelin.”

“Kamu sama Arka ada sesuatu, Kak?”

Hah?” Kalani seketika menoleh ke arah Nia yang dengan santai menyesap tehnya. Ibunya tersebut terlihat biasa saja, tidak ada tatapan penuh curiga atau goda. Tetap saja, Kalani merasa panik tanpa alasan. “Maksud Mami?”

“Kamu sama Arka... cuma temen atau lagi PDKT?”

“Dih, to the point banget, nih?” cibir Kalani. “Aku sama Arka tuh sekelompok selama satu semester. Kalau kita makin deket tuh berarti bonus doang.”

“Suka sama dia, nggak?”

“Mami! Apaan, sih.” Dapat dirasakan wajahnya memanas, dan sejujurnya Kalani takut akan alasan di baliknya. “Ya sukalah, orang dia baik. Dia emang pendiem, tapi seru juga punya temen kayak Arka.”

You know that's not what I meant, Kak,” goda sang ibu, “Tapi ya udah, kalau kamu belum siap cerita, Mami nggak akan maksa. Baik-baik ya sama Arka? Mami juga suka sama dia.”

Mami ada-ada aja, batin Kalani, Ketemu sama Arka juga baru sekali, udah main suka aja.

Kalani hendak melayangkan protes untuk yang ke sekian kalinya, namun Mbak Sri memotong obrolan mereka dengan pengumuman bahwa Arka sudah di depan. Buru-buru kabur dari hadapan Nia, Kalani pun berlari kecil menyusul seseorang yang beberapa hari ini ia hindari.

“Hei,” sapa Arka lembut.

“Hai.”

Perjalanan mereka berjalan canggung. Arka sibuk menyelip sana-sini di tengah kemacetan dan Kalani sibuk dengan isi kepalanya. Ia ingin berkeluh-kesah kepada Arka seperti tiap kali mereka berkendara bersama, namun Kalani masih tidak enak hati akibat kesalahpahaman kecil mereka waktu itu.

Yakin, salah paham kecil? batin Kalani mengejek diri sendiri.

Lama mereka hanya saling diam, tiba-tiba Kalani menyadari sesuatu. Mereka melenceng jauh dari jalan menuju sekolah, dan pikiran Kalani lari ke mana-mana.

Arka dendam banget sama gue?

Arka mau culik gue ke mana, anjir?

Masa iya dia belum puas mukul Jerome? Gue mau diapain?

Pikiran-pikiran aneh tersebut setia menemaninya hingga akhirnya mereka sampai di Danau Arka. Ya, berhubung Kalani tidak tahu nama danau tersebut, ia memutuskan untuk menyebutnya Danau Arka. Di satu sisi, Kalani dapat mengembuskan napas lega karena cowok itu tidak membawanya ke tempat asing. Namun di sisi lain, ia heran mengapa Arka mau repot-repot lewat jalan lain demi bermain “rahasia-rahasiaan” dengannya.

Dan di sisi yang lain lagi, Kalani memekik terkejut ketika ia sadar bahwa mereka sedang bolos.

“Arka!” jeritnya tertahan. Si empunya nama hanya mengernyit. “Lo gila, ya?! Lo ngajak gue bolos di mata pelajarannya Pak Satria?!”

“Sekali-kali, Kalani,” jawabnya enteng seraya melepas helm. “Yuk.”

“Yak, yuk, yak, yuk,” gerutu Kalani yang pada akhirnya tetap mengikuti Arka. “Reputasi gue, Arka. Astaga...”

“Lo peduli masalah gituan?”

“Gue peduli karena ini Pak Satria, ya. Kalau guru lain mah biarin aja.”

“Sekali doang, ya elah. Gue mau nunjukin sesuatu, dan ini adanya hari ini aja.”

“Pasti nggak penting.”

Arka hanya mengedikkan bahu. “Buat gue sih emang nggak penting karena gue nggak suka. Nggak tahu deh ya buat lo...”

Kalani yang awalnya berjalan di belakang Arka pun berhenti sesaat. Matanya memicing tajam ke arah punggung bidang cowok berambut hitam tersebut. Apa maksud Arka?

“Kalani?” Arka berbalik, barangkali merasa bahwa langkah kaki gadis tersebut tidak lagi terdengar di belakangnya. “Kenapa berhenti?”

“Lo mau ngapain, Ka?”

“Dih, dibilangin gue mau nunjukin sesuatu.”

Matanya kembali memicing. “Awas ya aneh-aneh.”

Ck, nggak percayaan banget sih lo.”

Rasanya malas mengikuti alur permainan Arka. Hati Kalani juga masih tidak enak ketika mengingat “pertikaian” mereka. Bagaimana pula Arka bisa bersikap santai seolah mereka baik-baik saja? Apakah Arka menganggap sikap cuek Kalani selama beberapa hari belakangan itu hal yang wajar? Dan juga, untuk alasan yang Kalani belum pahami, ia tidak suka saat Arka mengira ia dan Jerome pacaran. Arka salah. Kalani itu single. Arka tidak boleh salah paham—dilarang salah paham.

Dih, suka-suka dia dong, Ala.

Tadaaa...” Arka berhenti di dekat salah satu gazebo kecil yang terlihat biasa saja. Senyum lebarnya terukir cerah, kedua lengannya terentang, rambut hitamnya yang tertimpa helm menghasilkan poni lucu pada dahinya—itu semua menghasilkan sesuatu yang berdesir di dalam dada Kalani.

Namun kebingungannya lebih mendominasi kali ini. “Not tryna be rude, but... what am I supposed to see?

Arka mengerjap sesaat, kedua lengannya terjatuh, dahinya mengernyit gemas—Kalani hampir saja menghambur ke pelukannya karena merasa tidak enak.

“Itu... lo nggak lihat ada petak bunga matahari?”

Mendengar nama bunga kecintaannya, mata Kalani mengikuti jari telunjuk Arka. Dan benar saja, ada sepetak kecil tanah yang ditumbuhi bunga matahari yang sedikit tersembunyi di balik rerumputan liar.

Kaki Kalani secara otomatis mendekat, dan belum sempat ia mengeluarkan sepatah kata, Arka mendahuluinya, “Sebelum lo tanya, iya, emang itu bunga-bunganya udah kering. Kebetulan gue selalu contact-an sama salah satu penjaga di sini, namanya Pak Dwi. Waktu itu Pak Dwi bikin status di WA nunjukin bunga-bunga mataharinya. Terus gue minta tolong beliau buat chat gue kalau bunga-bunganya udah pada kering, which is suprisingly cepet juga. Dan, ya... here we are now.

Kalani merasa tercekat, ia tidak tahu harus merespon seperti apa. Fakta bahwa Arka mengingat hal-hal sepele tentangnya—bunga matahari dan bunga kering—serta fakta bahwa tidak peduli walaupun mereka sempat berselisih paham, cowok itu tetap menjalankan rencananya. Apa yang ia rencanakan dengan Pak Dwi pasti sudah cukup lama—mungkin beberapa hari setelah kunjungan pertama Kalani ke danau ini? Yang jelas, saat ini Kalani hanya ingin kabur dan menangis haru.

Kok lo gini sih, Ka? lirihnya nelangsa dalam hati.

“Kalani, lo nggak suka, ya?” Arka terdengar cemas, dan lagi-lagi keinginan untuk memeluk teman barunya tersebut muncul. “Maaf kalau ini terkesan nggak jelas. Tadinya gue mau ajak pas bunga mataharinya masih fresh, tapi percuma juga nggak bisa dipetik. Kata Pak Dwi, yang kering ini boleh lo ambil. Jadi gue—”

Arka bungkam sepenuhnya.

Tubuh Kalani menabrak tubuhnya. Kedua lengan sang gadis melingkari leher Arka erat-erat. Satu tangan mengusap punggungnya dan satu tangan mengusap tengkuknya. Diam-diam, Kalani mencoba menghirup aroma cowok itu, mencoba untuk mencari ketenangan yang selama ini ia rasakan setiap kali mereka berdekatan.

“Arka...”

Ia bisa merasakan kedua lengan Arka mulai naik untuk merengkuh pinggangnya. Pelukan keduanya mengerat, dan tanpa sadar, Kalani mengembuskan napas yang tak sengaja ia tahan.

“Ka...”

“Kalani...” Arka berbisik parau, menempelkan bibirnya pada pucuk kepala si gadis. “Sama gue terus, ya?”

“Gue nggak pacaran sama Jerome.”

Keduanya terdiam setelah bersuara bersamaan. Arka menegang, Kalani meleleh di tempat.

“Iya.”

“Iya.”

Kalani tergelak pada keselarasan mereka yang kedua kalinya tersebut. Sedangkan Arka? Ia sibuk menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Kalani seolah memang di sanalah ia seharusnya berada.