Kantin
Siang itu keadaan kantin di sekolah Pelita Jaya II terlihat normal. Kios pecel lele milik Bu Dian tampak ramai seperti biasa. Stan kecil milik Mas Wahyu yang menjual aneka jajanan pasar pun tidak luput dari beberapa murid yang rindu pastel atau risol atau ketan srikaya. Kios minuman satu-satunya di kantin milik Pak Ridwan pun terlihat penuh sesak oleh segerombolan cowok dengan atribut basket juga beberapa bola mereka yang kerap kali menggelinding entah ke mana dan mengenai siapa.
Kalani sudah biasa dengan pemandangan seperti ini.
“Mau es jeruk atau es teh, Al?” tanya Jerome setelah meletakkan semangkuk bubur ayam di hadapan si gadis. “Tapi agak lama, ya? Anak basket lagi barbar.”
“Nggak usah, Jer, lo duduk aja. Nanti gue beli sendiri.”
“Sekalian ajalah, anjir. Gue juga mau beli. Buruan, apa?”
“Air putih aja, deh. Nggak dingin. Thanks.“
“’Kay.“
Lama Kalani hanya duduk seorang diri sambil mencoba tidak terpaku pada gosip seru yang adik-adik kelas di dekatnya lontarkan, ia membuka notebook yang kebetulan ia bawa ke kantin. Jari-jarinya lari ke halaman yang berisi idenya bersama Arka, dan sebuah senyum simpul terukir pada bibirnya. Siapa sangka ia begitu menikmati waktu yang dihabiskan bersama cowok pendiam itu?
“Woy,” celetuk Bella dari belakang, “Senyum-senyum sendiri... kesambet, awas.”
“Apaan, sih,” Kalani tergelak. Ia menoleh dan mendapati “rombongan” mereka telah sampai. Ada Bella, Donna, Nakula, serta Hilman. “Don, novel gue mana? Mau gue kasih ke Arka.”
Kalani mendengar Hilman mendengus mendengar nama Arka terselip keluar. Sebenarnya, jika bukan karena Jerome yang terobsesi dengan Kalani, gadis tersebut tidak mungkin bisa berteman baik dengan Nakula dan Hilman. Well, itu pun kalau hubungan mereka bisa disebut benar-benar “baik.” Nakula sedikit lebih baik di antara mereka bertiga, sedangkan Jerome dan Hilman... tidak perlu ditanya.
“Arka gimana, Al?” tanya Nakula. Nadanya terdengar santai, tidak terkesan mengejek seperti Hilman. “Baik?”
Kalani mengangguk. “Anaknya baik, pinter kok cari ide. Udah lebih warming up juga kalau udah kenal gini.”
“Bagus, deh. Gue kira dia bakal diem aja terus lo yang bakal capek kerja.”
Salah satu hal yang Kalani suka dari Nakula adalah sikap cueknya, mungkin bahkan menjurus ke dingin. Seringkali apa yang keluar dari mulutnya terdengar pedas dan sarkastik, namun Nakula adalah orang yang jujur dan apa adanya. Jika dia tidak suka seseorang, dia akan bilang, dan tentu saja dengan alasan. Cowok itu tidak seperti kedua sahabatnya yang membenci Arka hanya karena menjadi pribadi yang terlalu diam di kelas.
“Ngomongin Si Culun, ya?” cibir Jerome yang tiba-tiba muncul. “Gimana progres lo, Al? Beneran mulus? Gue nggak percaya.”
Kalani tergelak kecut. “Percaya atau nggak mah urusan lo, Jer. Let's see whose compilation book is gonna be the best.“
“Nah, babe, I believe yours will be the best. Yang nggak gue percaya kan kinerja Si Culun aja.”
Kalani hanya memutar mata. Tidak ada rasa kesal lagi dalam dirinya untuk teman-temannya yang ignorant ini, hanya rasa lelah.
“Speaking of Si Culun,” ucap Donna sembari meletakkan novel Kalani di atas meja, “tuh, dia lagi antre di Mbak Caca.”
Enam pasang mata pun berlari ke sosok Arka. Cowok itu sedang mengulurkan uang, dan senyum tipis pun ia tujukan kepada Mbak Caca setelah mendapat kembalian.
Kemudian, sesuatu terjadi.
“Woy, Arka!” itu pertama kalinya Jerome memanggilnya dengan nama asli setelah ia sendiri yang menciptakan sebutan “Si Culun.” Perasaan Kalani tidak enak. Lebih tidak enak lagi ketika Arka menoleh. Tumben sih noleh? Ah elah, Ka, pergi aja. Jerome menyeringai, berdiri. “Tumben nih ngantin? Sini, sini. Gabunglah, jangan sombong lu.”
“Jer—”
“Sinilah, Ka, lo kan udah sering main sama Ala. Sama kitalah sekali-kali.”
Arka hanya bergeming tak jauh dari meja mereka. Posisi Arka yang tak jauh namun juga tak dekat mengharuskan Jerome untuk sedikit berteriak, dan itu sukses menarik sejumlah perhatian. Kalani mencoba memberi sinyal pada Arka agar ia pergi saja, namun gadis itu tidak yakin bahwa Arka menangkapnya. Apalagi fokus si cowok telah sepenuhnya pada Jerome.
“Berisik lu, cepet makan,” sergah Nakula yang beberapa detik sebelumnya bertemu pandang dengan Kalani. “Mau masuk, woy.”
Namun Jerome tidak peduli. “Nama lo Arka, kan? Kok gue panggil nggak nyahut, sih?”
“Jerome—”
“Eh, motor lo baru ya, Ka?” tanya Jerome absurd. “Tadi gue lihat di parkiran nggak kayak biasanya. Cie, motor baru.”
“Katrok lu, Jer,” celetuk Nakula santai.
Jerome melanjutkan, “Finally ya, Ka? Motor lo yang lama udah nggak aman gitu, takutnya—”
“Bisa diem, nggak?” Kalani berdiri, menarik siku Jerome agar cowok tersebut menoleh dan fokus pada dirinya. “Makan. Berisik.”
“Lah, gue kan lagi ngobrol sama Si Culun,” sergah Jerome. “Eh, sini deketan, anjir. Kayak apaan aja ngomongnya teriak-teriak gini. Gue mau tanya dong soal progres tugas lo sama Ala. Katanya lo numpang nama doang, ya? Kudu dikejar dulu baru mau nugas, iya?”
Keriuhan kantin mendadak berhenti. Segalanya terasa sunyi-senyap. Kalani menatap Jerome tak percaya, matanya membelalak. Sedangkan Arka... cowok itu mengambil langkah lebar untuk menghadap Jerome. Kalani melirik ke arah kedua tangannya yang telah terkepal erat, matanya memicing tajam.
“Ulangi,” desisnya. Jerome hanya tersenyum meremehkan. “Repeat. Bahasa mana yang lo nggak paham?”
“Lah, gue salah? Ala sendiri yang bilang.”
“Jerome, jangan gila!” pekik sang gadis. “Arka... nggak, Ka. Gue nggak ada bilang gitu.”
“Easy,” gumam Arka tanpa menatap Kalani barang sedetik, fokusnya masih terpaku pada Jerome. “Gue paham Jerome cuma bacot nggak jelas. Gabut banget?”
Belum sempat Jerome membalas, Hilman bangkit sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Kalani terlalu lambat untuk memahami situasi, sehingga saat cairan jus jambu membasahi Arka, Kalani hanya bisa menahan pekikan frustasi.
“Oops,” Hilman menyeringai. “Lo yang bacot, anjing. Freak.“
Kantin kembali pecah. Ada yang terbahak, ada yang melontarkan puluhan kata kasar kepada Jerome serta Hilman, ada yang melempar cacian untuk Kalani dan teman-temannya yang lain karena hanya diam... dan lain-lain. Kalani terlalu terkejut dengan apa yang terjadi. Ini semua sudah keterlaluan. Teman-temannya memang tidak pernah membiarkan Arka tenang sejak kelas sepuluh, tapi biasanya hanya verbal. Kalani tidak tahu harus apa sekarang.
“Arka...”
Si empunya nama bergeleng kepala, memotong apa saja yang akan keluar dari bibir si gadis. Ia menunduk, tetesan jus jambu meluncur dari rambutnya mengenai bagian tubuhnya yang lain. Desahan napas panjang lolos dari bibirnya.
Hati Kalani sakit.
Kemudian Arka berbalik badan dan pergi.
“Arka!”
Tawa Hilman menghentikan kaki Kalani untuk mengejar teman sekelompoknya itu.
“Cupu banget, anjing. Gitu aja kabur,” lanjut Hilman di sela-sela tawa. “Eh, Jer, geledah tasnya, yuk? Dia pasti nggak ke kelas dulu soalnya kudu bersih-bersih. Ambil tugas geografinya. Biar dia—”
Kalani tidak menetap untuk mendengar rencana jahat mereka. Berhubung kantin sedang penuh sesak, ia mengambil kesempatan itu untuk menyelinap di antara murid-murid dan bergegas ke kelas. Jika sebelumnya ia tidak mampu membantu Arka, mungkin kali ini bisa. Semoga ia berhasil menyelamatkan tas teman barunya itu.
Maafin gue, Ka...