Ennui

Love dies. Love fades away. Love dissolves into nothing. That's yours. Mine doesn't.

Dengan senyum terukir cerah, Mark melangkah keluar dari mobilnya lalu melenggang menuju pintu gedung asrama kekasihnya, Cecil. Dua minggu telah berlalu sejak pertemuan terakhir mereka, dan walaupun gadisnya tidak menginginkan apa-apa, Mark tetap berinisiatif untuk membawakan sesuatu untuk memanjakannya—bahkan buah tangan yang Mark bawa hari ini sudah ia persiapkan sejak lama.

“Pagi, Mas Nandung,” sapa Mark kepada salah satu satpam asrama.

“Eh, Bang Mark? Aduh, pangling lihatnya. Udah lama nggak ke sini ya, Bang?”

“HAHA iya, nih. Cecil-nya sibuk terus jadi saya nggak mau ganggu, Mas.”

Ekspresi Mas Nandung sedikit berubah, namun semuanya kembali normal bahkan sebelum Mark mempertanyakan itu. Mencoba menepis pikiran negatifnya, pemuda 22 tahun tersebut kembali memasang senyuman.

“Saya langsung ke kafeteria aja ya, Mas?”

“Oh,” Mas Nandung terlihat gelagapan, “Kebetulan Bu Nancy lagi nggak ada hari ini, jadi kalau Abang mau ke kamar aman aja. Neng Cecil tahu kan kalau Abang mau ke sini?”

“Tahu, kok,” Mark mengangguk, “Oke, saya naik, ya? Makasih, Mas.”

Langkahnya begitu ringan seraya Mark naik ke kamar Cecil. Ia tidak sabar untuk menghujani gadis tersebut dengan ciuman serta pelukan. Love language mereka yang bisa dibilang sama—physical touch—membuat keduanya tidak bisa lepas dari satu sama lain jika sudah bersama.

Tok, tok, tok.

“Cecil?” panggil Mark. “Sayang, aku di depan. Cecil?”

“Eh, bentar!” seru sang penghuni dari dalam.

Jantung Mark berdegup kencang. Ia begitu merindukan kekasihnya sehingga ia tidak dapat memikirkan hal lain kecuali merengkuh Cecil ke dalam dekapannya.

God, it's silly how much I miss her, it hurts, batinnya.

“Hai,” senyuman lembut bak malaikat menyambut Mark ketika Cecil dalam balutan piyama merah muda membuka pintu. “Mark? Kok diem aja, sih? Mau masuk, nggak?”

“Bentar,” lirih Mark. “Cecil... kamu cantik banget.”

“Dih, apaan, sih,” decak Cecil. “Masuk. Nggak enak dilihatin penghuni lain.”

Mark pun menghambur ke dalam kamar asrama Cecil, dan pada detik berikutnya, ia merengkuh tubuh gadis tersebut ke dalam pelukannya. Ia bahkan dengan sembarangan menggeletakkan benda yang ia bawa khusus untuk Cecil karena yang ada di pikiran Mark saat itu adalah memeluk gadisnya erat-erat. Dihirupnya aroma Cecil dalam-dalam, mencoba meresapi apa yang ia lewatkan selama dua minggu belakangan.

“Mark, udah, ih,” erang Cecil, “Nggak bisa napas.”

“Ih, Cecil, kok gitu,” rengek Mark bak anak kecil sambil mengeratkan pelukannya, “Masih mau peluk yang lama. Sejam.”

“Aduh, Mark, manja banget. Aku gerah, lepas dulu.”

Nope.

“Mark, lepas bentar, ih.”

“Nggak mau, Cecil. Lagian tumben amat, sih? Biasanya juga kamu yang clingy.

“Aku nggak pernah clingy, ya! Enak aja kamu.”

Mark terkekeh, “Bentar dulu. Aku kangen banget. Kamu kok nggak peluk erat, sih? Eratin aja biar makin nempel.”

“Mark...”

“Hm,” dengan berat hati, Mark akhirnya melepas pelukan mereka, namun pemuda tersebut tidak berhenti sampai sana. Jari-jari panjangnya melayang ke arah pipi Cecil untuk meremasnya. “Kamu kok makin cantik, sih? Kita nggak ketemu baru dua minggu padahal.”

“Biasa aja,” Cecil melengos agar Mark tidak bisa menyentuhnya lagi.

Dahi Mark berkerut heran. Ada apa dengan kekasihnya? Mengapa ia terkesan tidak senang melihat Mark?

Babe, are you alright?” tanya Mark hati-hati. “Perasaan aku aja atau emang kamu nggak semangat ketemu aku? Kamu bete karena batal keluar sama temen-temen?”

“Mark...” lirih Cecil. Perasaan Mark semakin tidak enak namun ia dengan sabar menunggu gadis tersebut melanjutkan. “Mark, aku... aku nggak bisa.”

Selama sepersekian detik, jantung Mark berhenti berdetak. Ia tidak ingin memiliki pikiran negatif, namun hanya itu yang ada di otaknya saat ini.

Cecil melanjutkan, “Aku... Mark, I don't think I can do this anymore.

Do what?” suara Mark menjadi rendah dan dalam, dan Mark tahu Cecil tidak suka ketika ia menggunakan suara itu. Namun Mark terlalu kalut, ia tidak menyangka bahwa semuanya terjadi secepat ini. “Cecil.”

“Mark,” terdengar suara isakan dan Mark langsung mendongak, mendapati gadisnya sedang mencoba untuk menahan tangis.

Cecil, baby, no...

No, Mark. Don't come near me,” isaknya ketika melihat Mark hendak mendekat dengan lengan terulur siap memeluk. “Udah ya, Mark? Cukup, oke? Aku nggak mau nyakitin kamu lagi. It's unfair for you.

“Cecil, aku bahkan nggak tahu masalahnya apa dan tiba-tiba kamu kayak gini? Tell me what's wrong.

“Aku nggak bisa sama kamu lagi, Mark. Isn't it obvious? Di chat aku cuek, diajak ketemu aku selalu nolak. Aku penginnya kamu yang sadar dan capek sama aku, biar kamu yang mutusin aku. But you've been so patient and I don't think I deserve that. Mark, you deserve so much more. Udah, ya?”

“Sayang...”

Stop,” isak tangis Cecil begitu memilukan bagi telinga Mark, dan sejujurnya pemuda tersebut sedang mencoba sekuat tenaga untuk tidak terperosok jatuh juga. Mark harus tetap kuat untuk Cecil. “Mungkin LDR emang bukan jalan buat kita. Aku nggak mau ngeluh capek, tapi itu yang aku rasain, Mark. Aku capek. Udah, ya?”

“Tapi ada solusinya kan, Sayang? Aku selalu rela untuk ke sini kalau kamu butuh. Aku juga selalu nyaranin kamu untuk balik ke rumah aja, biar aku yang antar-jemput setiap kamu kuliah. It's not that far once we're used to it. Tapi kamu selalu nolak. Cecil, I'm willing to do anything to make it work. Tapi kamu selalu nolak.”

That's the whole point, isn't it?” Cecil tergelak hambar, “Kamu terus yang berusaha tapi aku selalu nolak. That's a huge red flag for you. Kamu harus cari orang lain yang bisa diajak berjuang bareng, Mark. Orang itu bukan aku.”

“Kenapa bukan kamu, Cecil?” suara Mark menjadi serak dan bergetar, dan ia takut pertahannya akan runtuh. “Kenapa kamu nggak mau berjuang? Kenapa kamu malah pasrah sama keadaan? Solusinya ada banyak dan kamu milih nol. Kenapa, Cecil? Aku kurang apa sampai kamu nggak mau banget perjuangin aku?”

You're perfect, Mark,” tangis Cecil pecah, “You're so perfect, too perfect. Masalahnya ada di aku, bukan kamu. Tapi aku lagi nggak bisa. Maafin aku, Mark.”

Is there someone else?

What? No!” sergah Cecil cepat. Walaupun masih bingung dengan sikap Cecil yang seperti ini, Mark tahu bahwa gadis tersebut adalah gadis baik-baik. Kata selingkuh tidak ada dalam kamusnya. “Nggak ada siapa-apa, Mark. It's just... people fall out of love, sometimes. Aku minta maaf. Aku sayang kamu, tapi rasa sayang aku yang sekarang udah nggak cukup buat hubungan ini. Mark, I'm so sorry.

Love dies. Love fades away. Love dissolves into nothing. That's yours. Mine doesn't.” Mark mendongak untuk menatap mata Cecil dalam-dalam. “Tolong inget itu ya, Cecil? Aku bakal ada kalau kamu siap.”

Direngkuhnya gadis tersebut untuk yang terakhir kali, dan pada saat itu, Mark merelakan dirinya jatuh sedalam-dalamnya. Air mata keduanya mengalir deras, dan isakan pilu pun menjadi lagu terakhir mereka sore itu.