Nyata
His skin suddenly felt like fire against mine, hot and burning. Worry in his eyes was replaced by something so fierce and deep, but I was too afraid to hope.
Ada banyak—terlalu banyak—pertanyaan di kepala Karana. Ia tidak paham apa yang terjadi, namun fakta bahwa Jaehyun ada di Bandung membuat gadis itu melupakan hal lain. Bagaimana bisa pemuda tersebut melakukan ini? Dan sekarang ia sedang bersembunyi di kamar mandi umum, astaga. Di mana para bodyguards-nya? Anggota NCT yang lain? Asisten pribadi atau siapa pun itu? Dan yang lebih penting, mengapa Jaehyun ada di sini?
Jaehyun merupakan seorang idol, tidak seharusnya ia gegabah untuk terbang dari Korea ke Indonesia seperti ini. Bagaimana jika ada yang mengenalinya? Bagaimana jika ada yang mengenali mereka—Jaehyun dan Karana? Semuanya bakal berantakan dan Karana tidak yakin ia siap. Dan bagaimana dengan tunangannya? Sosok tampan tersebut sudah memiliki tunangan namun ia malah di sini, jauh dari rumah. Karana merasa tidak bisa berpikir logis saat ini.
Beberapa saat kemudian, lift telah menyentuh lobi dan Karana segera keluar. Jaehyun tidak perlu memberitahu kamar mandi mana yang ia tempati mengingat hanya ada satu kamar mandi umum di lobi hotel tempat Karana menginap. Karana menduga pria tersebut pasti mengawasi akun media sosialnya, maka dari itu ia bisa tahu tentang kegiatan gadis itu di Bandung selama seminggu ini.
Tepat ketika Karana telah berdiri di depan pintu kamar mandi, ponselnya berdering. Nomor baru Jaehyun menyambut mata Karana sebelum gadis itu akhirnya menjawab.
“Aku di luar,” lirih Karana, “Kamu pakai hoodie, kan?”
“Iya. Keadaan di lobi gimana?”
“Lumayan sepi, cuma ada satu staf sama satu couple. Harusnya sih aman.”
Jaehyun memutus sambungan telepon tanpa sepatah kata lagi. Karana menunggu dengan gelisah. Ini akan jadi pertama kalinya gadis itu bertemu dengan idolanya. Sebelumnya, Karana merasa tenang karena yang ia pikirkan hanyalah keselamatan Jaehyun. Dan sekarang ketika pertemuan mereka sudah di depan mata, rasanya Karana ingin kabur saja.
Terdengar bunyi klik dari dalam, dan menjulanglah Jaehyun di hadapan Karana.
Ia tercekat ketika melihat sosok asli pemuda bersuara bariton tersebut. Jaehyun mengenakan pakaian sederhana—sweatpants hitam, kaus putih di bawah hoodie hijau gelap, topi dan kacamata hitam, serta sebuah ransel—dan bagi Karana, ia terlihat menawan seperti biasanya. Gadis tersebut terlalu kaku untuk bereaksi hingga akhirnya Jaehyun menariknya kembali ke Bumi.
“Kita sama-sama shock, tapi kayaknya kita harus buru-buru jalan,” ujar Jaehyun sedikit panik, “Lanjutin nanti saling tatapnya.”
Pipi Karana pun memanas akibat kalimat terakhir Jaehyun. Gadis itu berpikir, apakah ia akan benar-benar menghabiskan malamnya bersama pemuda itu? Dengan Jaehyun dari NCT? Kira-kira Karana bermimpi apa semalam?
“Ayo, Karana,” Jaehyun menarik pergelangan tangan Karana untuk membawanya ke arah lift. Gadis itu serasa ingin pingsan ketika merasakan jari-jari Jaehyun melingkari kulitnya. “Lantai berapa?”
Bergerak sekaku robot, Karana menekan beberapa tombol yang akan membawa mereka ke tujuan. Di dalam lift, tiada kata serta suara yang mengisi keheningan, dan Karana dapat merasakan jari-jari Jaehyun masih melingkari pergelangannya. Ketika mereka sampai di tujuan, pemuda tersebut segera melepas kontak kulit. Karana tidak pernah merasa selega itu seumur hidupnya.
Dan kemudian segalanya menjadi lebih canggung.
“Maaf,” mulai Jaehyun, “Maaf aku ke sini tiba-tiba.”
Karana tidak tahu harus merespon seperti apa. Lidahnya terlalu kelu untuk berbicara. Baginya, ini semua tidak mungkin nyata. Jaehyun tidak mungkin sedang berada di sini di hadapannya sekarang. Kemudian segalanya—segalanya yang telah mereka lalui selama enam bulan terakhir—mulai menerobos ruang pikiran Karana. Pertama kalinya pemuda tersebut membalas DM-nya, pertama kalinya terjadi kesalahpahaman di antara mereka, pesan pertama dari Jaehyun setelah mereka bertukar nomor—segalanya.
Tiba-tiba, Karana ingin menangis.
“Hei, hei,” Jaehyun melangkah mendekat, namun ketika ia melihat Karana mundur untuk menghindari kontak kulit, pemuda tersebut pun berhenti. “Maafin aku, Karana. Tolong jangan nangis. Aku tahu ini susah dicerna, tapi tolong jangan nangis. Aku nggak bisa lihat kamu kayak gini.”
“Jay...”
“Aku boleh peluk?”
“A-apa?”
“Peluk,” lirih Jaehyun, “Aku boleh peluk kamu?”
Seketika, Karana mendongak dan akhirnya berani menatap mata cokelat indah sang idola. Pemuda tersebut terlihat sama tertekannya, seolah ia ingin langsung menjelaskan segalanya. Namun menjelaskan apa? Karana pun ingin memeluknya, tapi bisakah? Beranikah dirinya? Gadis tersebut merasa akan langsung pingsan jika Jaehyun menyentuhnya, dan itu akan sungguh memalukan.
Sebelum Karana sempat menjawab, Jaehyun secara tiba-tiba merengkuh tubuh gadis tersebut dan menguburnya ke dalam pelukan erat. Tangis Karana pun pecah tepat ketika aroma Jaehyun menginvasi indra penciumannya. Ia terasa nyaman dan hangat, dan Karana tidak berani melepaskan.
Jaehyun meremas lembut pinggang Karana seraya mendesah berat, “Astaga, jadi gini rasanya meluk kamu.”
“Jay,” lirih Karana, “Jangan gitu ngomongnya.”
“Persetan,” ia mengumpat, “Aku kangen kamu. Kita.“
“Jay...”
“Maaf, Karana, maaf. Aku nggak tahu gimana jelasinnya, tapi aku minta maaf buat semuanya. Jangan lepasin, ya?”
“Bentar, Jay,” Karana menarik diri sedikit, namun Jaehyun merengkuhnya kembali untuk mengeratkan tautan mereka. Karana mendesah berat, kalah. “Bicara dulu, ya? Kita butuh ngobrol. Aku nggak ke mana-mana, jadi lepasin dulu.”
“Nggak.”
“Please.”
“Nggak.”
Sebuah ide nakal melintasi benak Karana, namun mungkin ini satu-satunya cara agar dirinya didengar. Karana mengulurkan tangan dan jari-jarinya mulai membelai lembut rambut hitam Jaehyun. Halus dan sedikit basah, mungkin karena hujan di luar. Embusan napas Jaehyun terdengar berat seraya pemuda tersebut mulai menggesekkan hidungnya di ceruk leher Karana.
Brengsek, batin gadis itu.
Karana menghela napas panjang, mencoba untuk tenang.
“J-jangan,” gagapnya.
“Kamu yang mulai,” balas Jaehyun dengan suara dalamnya yang sedikit serak, “Aku suka main-main juga.”
“Aku lagi nggak main,” Karana sedikit terengah, namun ia berhasil mengendalikan diri. “Aku cuma mau ngobrol, Jay. Kamu jangan minta maaf doang, jelasin juga.”
Apa yang keluar dari mulut Karana akhirnya mendapat perhatian Jaehyun. Sang penyanyi akhirnya melepaskan tubuh Karana sebelum menjatuhkan diri ke sofa.
“Berantakan,” ia mengusap wajah tampannya dengan kasar, terlihat frustasi. “Semuanya berantakan. Makanya aku ke sini. Aku mau kabur.”
“Bentar,” Karana bangkit dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil handuk serta bathrobe. Ia juga menyambar sebotol air, jaga-jaga saja. “Lepas dulu semuanya, terus nih pakai bathrobe-nya. Biar nggak masuk angin. Aku buatin teh dulu ya sambil kamu ganti.”
Setelah semuanya selesai, Karana mengambil posisi duduk di belakang Jaehyun untuk mengusap rambut lelaki tersebut dengan handuk agar kulit kepalanya kering. Jaehyun terlihat menikmati kegiatan tersebut, ia pasti kelelahan.
“Jadi?” pancing Karana.
Jaehyun mundur sedikit yang menyebabkan Karana harus membuka kakinya sedikit lebar, alhasil sekarang posisi Jaehyun adalah bersandar pada gadis itu. Karana merasa cemas, mengingat posisi mereka sedikit terlalu intim, namun otaknya terasa kosong melompong sehingga ia tidak mampu protes.
Jaehyun menghela napas panjang. “Tahu, nggak, kalau manajemen di Korea sama buruknya kayak di negara lain? Mereka suka drama sama manipulasi, dan aku sempat kena imbasnya.”
“Sempat?“
“Sempat,” ia mengangguk. “Masih inget Kim?”
“Mantan asisten kamu yang dulu bales DM aku itu? Yang bikin salah paham?”
“Iya,” Jaehyun mengangguk lagi, “Udah aku pecat, kan? Bahkan udah lama, sekitar enam bulan yang lalu, tapi dia masih punya power. Ternyata, asisten aku yang baru ini berhubungan sama Kim, terus mereka bikin rencana balas dendam ke aku gitu. Ini udah lama banget, tapi Kim masih nggak ikhlas aku pecat. Maksudnya, harusnya dia expect itu, dong? Dia lancang.”
“Oke, oke,” Karana menghentikan celotehan Jaehyun sambil masih mengeringkan rambutnya, “Cukup soal Kim. Jadi, kenapa? Kim sama si asisten baru ngapain?”
“Mereka ngeyakinin pihak SM kalau aku butuh drama, gimik, atau apapun itulah,” Jaehyun mendengus kecut, “Makanya mereka bikin aku tiba-tiba tunangan sama orang. Aku nggak tunangan, Karana.”
Handuk yang ia genggam pun terjatuh dan Karana langsung menjauh dari Jaehyun. Tubuh mereka begitu dekat, terlalu dekat. Kulit Jaehyun tiba-tiba terasa layaknya api yang panas dan menyengat, dan Karana butuh menjauh.
“Tolong duduk dulu,” gagap si gadis, “Tolong, aku butuh space.“
Jaehyun sepertinya merasakan bagaimana tubuh Karana sedikit gemetar, sehingga ia langsung bangkit lalu menghadap sang gadis. Kekhawatiran terpatri jelas di mata si pemuda, namun Karana tidak peduli. Otaknya penuh akan kenyataan bahwa selama ini Jaehyun masih sendiri dan tidak terikat dengan siapa pun.
Batinnya berkecamuk, Serius? Ini gue sendirian di kamar sama cowok yang gue suka? Cowok yang gue punya perasaan lebih? Terus dia masih sendiri, sama sekali nggak tunangan? Brengsek. Gue pengin kabur, astaga.
“Karana—”
“Diem—”
“Nggak,” sela Jaehyun, “Aku ke sini karena aku butuh lihat kamu, aku butuh jelasin semuanya. Rasanya sakit waktu aku nyakitin kamu. Aku pengin peluk kamu saat itu juga, Karana. Terus sekarang aku udah di sini, dan aku nggak bakal ke mana-mana. Tahu kenapa? Aku suka kamu. Aku kagum sama kamu. Nggak, nggak. Bukan itu. Aku sayang banget sama kamu. I love you.“
Karana menatap Jaehyun dalam-dalam. Ada sesuatu pada ekspresi pemuda itu yang tidak terbaca, yang kemudian ekspresi tersebut berubah jadi lembut. Kekalutan pada mata Jaehyun berubah menjadi sesuatu yang lebih kuat dan dalam, namun Karana takut untuk berharap.
“Aku sayang kamu,” lirih Jaehyun sembari mendekat ke arah Karana. Tubuh tingginya menjulang, kedua lengannya terulur seakan siap untuk merengkuh gadisnya kapan pun Karana siap. “Aku nggak nyangka bakal suka sama penggemar. Bukan karena nggak mau, tapi aku mikirnya pasti bakal ribet. Tapi sama kamu, aku nggak pernah takut buat nyoba. Gimana cara kamu terbuka di DM padahal peluang aku bales itu kecil, bahkan nggak ada. Gimana kamu sabar banget sama aku dan jadwalku yang padat. Gimana kamu selalu ngerti caranya hibur aku. Semuanya ada di kamu, Karana. Aku bersyukur banget bisa punya kamu di hidup aku. Makasih udah mulai semuanya duluan. Makasih buat DM-nya. Makasih.“
Ketika bulir air mata pertama jatuh, Jaehyun telah siap untuk memeluk Karana. Ia mendekap gadisnya erat-erat seraya mengecup rambutnya tanpa henti, diiringi dengan bisikan-bisikan lembut penuh cinta. Karana menenggelamkan wajahnya ke dalam ceruk leher Jaehyun, terisak tanpa malu. Dan pada akhirnya, Jaehyun mundur sedikit untuk memberi gadisnya ruang. Pemuda tersebut menatap Karana dengan senyum lebar terpatri pada wajah rupawannya.
Lesung pipinya... astaga, erang Karana dalam hati.
“I love you,” bisik Jaehyun untuk ke sekian kalinya. “Banget, banget, Karana. Aku sayang banget sama kamu. Kamu paham, nggak? Sayang banget.”
Karana tergelak, dan seketika wajah Jaehyun berubah cerah mendengarnya. Saat ini, Jaehyun terlihat begitu menawan dan rasanya Karana ingin berteriak bahwa ia merasa tidak pantas mendapatkan sang idola. Namun, Jaehyun telah memilihnya. Dan itu cukup.
“And I love you, Jay.”
Jaehyun pun mendekat untuk menutup jarak mereka.