Pilihan

You brought your world and pulled me into it. Now you become my world.” —Dillon Abrisam.

Lana mencoba untuk tenang. Sudah beberapa kali ia mengembuskan napas, sedikit kesusahan untuk meredam rasa panik. Apa pula yang ditakutkan? Ia akan bertemu Dillon, laki-laki yang telah mewarnai hari-harinya selama kurang lebih tujuh bulan, dan mereka akan meluruskan hubungan apa pun yang mereka jalani saat ini. Lana tidak seharusnya panik.

Mungkin lo takut kalau Dillon ujung-ujungnya balik sama Laisha.

Ia mengerang sebal akan pikirannya sendiri.

Diem lo, otak.

Mencoba flashback ke bulan-bulannya bersama Dillon, Lana berpikir bahwa kisah cintanya kali ini memang agak rumit. Bisa berkenalan dengan model papan atas seperti pemuda itu saja sudah syukur, ditambah ternyata mereka bisa berteman dekat dan punya perasaan lebih. Masa lalu Dillon yang rumit bersama Laisha menjadi penghalang besar bagi Lana untuk tetap percaya diri, dan sudah terbukti bahwa terkadang Dillon tidak bisa bersikap tegas dengan mantannya tersebut.

Itulah yang menyebabkan Lana kabur ke Yunani dan menemukan fakta bahwa penggemar rahasianya adalah temannya sendiri.

“Hei,” muncul sebuah suara dari belakang. Tubuh Lana berubah kaku, namun ia tetap menunjukkan ekspresi tenang ketika menoleh dan menghadap Dillon yang tersenyum manis di belakangnya. “Udah nunggu lama, ya? Sorry, tadi pemotretannya agak molor.”

“Nggak apa-apa,” gumamnya. “Gue juga belum lama di sini.”

Suasana berubah canggung. Ini kali pertama mereka bertemu lagi setelah dua minggu Lana mencoba menghilang dari radar si lelaki. Apalagi ketika ia kabur, Lana tidak menggubris satu pun pesan atau panggilan dari Dillon. Ada sedikit rasa bersalah, namun Lana sadar bahwa ia butuh ketenangan sebelum dapat memutuskan apa-apa.

“Jadi... gimana kamu sama si secret admirer?” tanya Dillon tanpa basa-basi.

Lana tergelak pelan, tidak percaya bahwa ini topik pertama yang akan mereka mulai. “Nggak gimana-gimana. Kita tetep temenan baik, dia juga nggak menjauh atau gimana.”

“Emangnya siapa? Tetangga yang kamu maksud itu siapa?”

“Tahu toko bunga di seberang, nggak?” Dillon mengangguk, Lana melanjutkan, “Dia pegawai di sana, kita kenal, temenan baik juga. Namanya Teja.”

“Pantesan.”

“Pantesan apa?”

Dillon tersenyum tipis. “Ya pantesan ngirim bunga terus. Ternyata emang dia ahlinya. Terus gimana ceritanya bisa ketemu di Yunani?”

“Kalau itu emang nggak sengaja. Gue confront dia masalah secret admirer juga nggak sengaja. Pas gue lihat dia pertama kali, dia lagi ngelakuin sesuatu yang vibes-nya mirip sama si secret admirer.

“Apa?”

Dan Lana pun menceritakan segalanya. Dimulai dari bagaimana mereka bertemu, bagaimana Teja yang awalnya kesulitan untuk menjawab “iya” namun tidak ingin berkata “tidak” pula, bagaimana belum sempat Teja mengkonfirmasi namun Lana sendiri sudah kepalang semangat karena gadis itu begitu menyukai ide brilian Teja, dan bagaimana akhirnya Teja menjelaskan semuanya.

Teja, yang baru dua tahun belakangan bekerja di Fleurs en Fleurs, mulai tertarik dengan Lana sejak gadis itu mengambil alih usaha toko buku kakek dan neneknya sembilan bulan lalu. Teja, yang pendiam awalnya, berubah menjadi “parasit” ketika sudah jauh lebih nyaman dengan Lana—yang notabene tidak sulit mengingat Lana hanya perlu memberinya makanan gratis setiap jam makan siang, dan Teja akan dibuat luluh. Dan Teja, yang awalnya tidak pernah membalas pesan atau panggilan dari Lana karena malas memegang ponsel, akhirnya menjadi satu-satunya pembuat onar setiap malam karena tidak bisa berhenti mengganggu me-time gadis itu.

Teja, yang begitu baik dan tulus, namun tidak pernah dilirik oleh Lana.

Teja, si penggemar rahasia dengan usaha tiada tandingan, pun tidak pernah dilirik oleh Lana.

“Lana...” lirih Dillon, “Lana, jangan merasa nggak enak. Bukan salah kamu.”

“Tapi, Dil—”

Hey, listen,” selanya, “Jawab jujur, sebelumnya, apa kamu pernah kepikiran buat suka sama Teja? Buat ada di suatu hubungan sama dia? Sebelumnya, dengan kebaikan dia kayak gitu, apa kamu pernah ngerasa jatuh?”

“N-nggak...”

“Terus menurut kamu, apa adil kalau sekarang kamu cari-cari alasan buat bales perasaan dia? Yang sebelumnya kamu nggak lihat masa depan sama dia, terus sekarang kamu ngulik otak buat bikin dia nggak kecewa. Adil? Buat diri kamu sendiri dan buat Teja?” Lana bergeming, Dilon melanjutkan, “Aku ngomong gini bukan karena aku mau kamu pilih aku, Lana. Tapi yang aku denger tentang Teja dari kamu barusan, he sounds like a very genuine guy. You wouldn't want to hurt him by being with him out of pity. Dan kalau kamu butuh waktu lebih buat mikir, nggak apa-apa.”

Lana tetap diam.

Udah capek mikir, dari kemarin gue menghindar juga buat apa kalau bukan buat mikir?

“Lo bener...” gumamnya setelah waktu lama.

“Hm?”

“Lo bener, Dillon.” Lana mendesah berat, “Gue emang nggak ada rasa buat Teja, nggak pernah ada. Waktu dia ngaku, perasaan gue lebih ke kecewa karena nggak bisa peka. Bahkan waktu belum ketahuan siapa si secret admirer, gue juga nggak terlalu mikirin dia. Gue cuma mikirin kiriman-kirimannya yang cantik. Gue egois, ya?”

No.” Sergah Dillon tajam. “Nggak, Lana, kamu nggak egois. Apa pun yang bikin kamu berpikir untuk nyalahin diri sendiri, buang. Kalau kamu nerima dia hanya karena nggak enak dan kasihan, itu nggak adil buat Teja. Aku tahu kamu merasa bersalah, dan aku nggak expect kamu bakal 'sembuh' cepet, but please know that it was never your fault.

Gadis tersebut mengangguk lemah, menerima semua yang keluar dari mulut Dillon. Lagipula, jika boleh percaya diri sedikit, Lana tahu Teja tidak pernah mempermasalahkan apa pun. Setelah Teja mengaku, laki-laki tersebut cepat-cepat menambahkan bahwa Lana tidak perlu membalas perasaannya. Lana tidak perlu merasa bersalah dan tidak enak. Lana tidak perlu mengubah sikapnya kepada Teja. Lelaki tersebut hanya ingin pertemanan mereka tetap sama.

“Gue juga tahu lo deket sama si model,” tambah Teja sambil menyengir kuda, “Tiap malem disamperin, dibantu beres-beres toko. Padahal gue yakin dia sibuk. Tiap weekend juga sarapan bareng di kafe sebelah. Gue tahu, Lana. Gue paham.”

“Terus kenapa lo nggak berhenti? Kenapa nggak cari orang lain yang lebih pantes dapet perlakuan spesial dari lo? Teja, usaha lo nggak ada yang ngalahin. Dillon aja nggak bisa ngalahin. Lo pantes dapet yang lebih dari gue.”

“Sabar kali, neng. Semuanya butuh proses. Biarin gue nikmatin yang sekarang. Kan yang penting gue sadar posisi gue di mana, makanya gue nggak ada ekspektasi tinggi, dan makanya gue nggak ngelak pas ketangkap basah gini. Dan makanya... kita bakal baik-baik aja, Lana. Gue yang jamin itu.”

Mengingat percakapan tersebut, Lana kembali ingin menangis.

“Hei, hei,” Dillon menyentuh dagunya agar ia mendongak, “Jangan nangis, Lana. You're gonna be fine.

With you?” Lana menggigit bibir bawahnya setelah pertanyaan itu lolos. Dillon tampak terkejut. “Sorry, gue nggak—”

Of course with me,” Dillon tersenyum, “Tapi kita ngobrol dulu ya, Lan? Aku butuh jelasin beberapa hal, dan kamu harus denger. Aku nggak mau kamu salah paham lagi.”

“Oke.”

“Soal Laisha... kita mantan. Kamu tahu itu. Dia masih ngejar aku, kamu tahu itu. Aku nggak tegas sama dia, masih suka ngeladenin dia... kamu juga tahu itu. Tapi, Lana, kamu sama dia beda. Dia gandeng tangan aku pas dikejar media, kamu tarik tangan aku sambil jadi tameng. Dia dateng ke aku pas aku dapet banyak sponsor brand, kamu dateng ke aku pas aku ngeluh tumpukan cucian segunung.

Dia mau diajak keluar kalau aku lagi free aja karena artinya dia bebas buat nentuin tujuannya, kamu mau diajak keluar kapan aja, bahkan lebih suka yang spontan. Dan masih banyak lagi, Lana. Dia ada karena pekerjaan aku, karena kita hidup di dunia yang sama. Kamu... kamu kayak dateng dari dunia lain, my own safe haven. Kalau sama kamu, aku jadi lupa kalau aku model yang sering kena gosip A-Z. Aku jadi lupa kalau sebenernya aku capek sama duniaku sendiri. You brought your world and pulled me into it. Now you become my world.

“Dillon...”

“Laisha udah balik ke Jepang. Aku nggak pernah—belum sempet—cerita kalau keluarga dia di Jepang, sekarang dia balik ke sana. Aku lega. I'm finally with you, dan aku lega.”

Tetes demi tetes air mata menuruni pipi Lana.

Gue lega juga, Dillon.

I'm all yours now, Lana. Will you be mine?

“Dillon, g-gue...” ia tercekat, emosinya terlalu naik-turun sehingga yang ia inginkan sekarang adalah dipeluk. Dipeluk oleh Dillon. Dillon yang dicintainya. Pipi Lana semakin banjir air mata ketika ia berseru, “Just hug me, you dammit!

Gelak lembut lolos dari bibir Dillon. Direngkuhnya gadis tersebut, dan dalam sekejap, mereka tahu semuanya akan baik-baik saja.