Sakit

Arka telah duduk di atas motornya selama hampir lima menit tanpa melakukan apa pun. Ia bimbang apakah menjenguk Kalani merupakan tindakan berlebihan atau tidak. Keduanya memang sudah jauh lebih akrab sekarang, bahkan Arka yang awalnya sangat tertutup dapat sedikit terbuka dengan Kalani. Tapi bagaimana jika Kalani salah paham? Bagaimana jika Kalani mencurigai sikap hangat Arka? Cowok itu tidak ingin perasaannya yang mulai aneh terhadap Kalani disadari oleh si gadis.

”...kasihan banget, masa katanya dia mual terus dari pagi? Nggak ada makanan yang masuk.”

“Emang iya? Kita ke sana aja kali, ya? Bawain makanan kesukaannya?”

“Emang boleh? Lagian kita udah ada appointment di salon, Don. Lo tahu sendiri salon itu selalu full booked. Sayang kalau batal.”

“Ah, elah, Bel. Kalau gitu ntar malem langsung ke Kalani, ya?”

“Iya, Donna. Bawel banget. Yuk, ah.”

Obrolan singkat tersebut telah terdengar sepenuhnya oleh Arka, yang mana Donna serta Bella berjalan melewatinya, dan tentunya kedua gadis tersebut tidak mengindahkan kehadiran “Si Culun.” Fakta bahwa keadaan Kalani rupanya sangat tidak baik semakin membuat Arka gelisah, dan pada akhirnya ia memutuskan untuk jadi menjenguk. Mengingat ia sudah berjanji akan membawakan desserts dari toko kue kesukaan Kalani, cowok itu bergegas membeli.

Dan 35 menit kemudian, ia pun telah sampai di depan gerbang rumah teman gadisnya.

Terakhir kali berkunjung, Arka hanya melihat dua mobil di carport luas milik keluarga Kalani, namun kali ini telah terparkir rapi sebuah mobil hitam di depan gerbang. Ia kembali ragu, bagaimana jika ada teman atau kerabat mereka yang datang menjenguk juga?

“Mas Raka, ya?” tanya sebuah suara. Arka mendongak, mendapati salah satu ART Kalani yang waktu itu menjamunya. “Mbak Sri, nih. Ingat, nggak?”

Arka pun tersenyum. “Ingat, Mbak. Oh iya, nama saya Arka.”

“Lah, iya, Mas Arka,” Mbak Sri menepuk dahinya ringan, “Lupa. Maafin, ya. Ada apa ke sini, Mas Arka?”

“Haha, santai, Mbak. Saya mau jenguk Kalani. Dia sakit, ya?”

“Ah, iya, Mas. Kayaknya Mbak Kalani itu kecapekan, sukanya bergadang.”

“Waduh...”

“Eh, masuk dulu, Mas Arka. Sampai lupa nawarin. Ayo, ayo.”

Setelah melepas helm serta memarkir motornya dengan benar, Arka mengikuti Mbak Sri masuk ke dalam. Rasa penasarannya perihal mobil di luar kembali muncul, dan ia rasa ini saat yang tepat untuk bertanya.

“Udah ada yang jenguk Kalani, Mbak?”

“Itu kebetulan di dalem ada pacar Mbak Kalani. Saya pikir Mas Arka tahu.”

“Pacar?” Arka seketika bergeming. Lagi-lagi sebuah perasaan aneh muncul, namun kali ini berbeda. Perasaan aneh yang kali ini terasa asing, membuatnya sesak, dan sama sekali tidak ada rasa hangat yang menyelimuti dadanya. “Kalani nggak bilang sih, Mbak. Kalau boleh tahu, siapa—”

“Lah, ada Si Culun.”

Suara itu, geram Arka dalam hati, Harus banget dia yang ada di sini? Kok gue juga nggak ngeh mobilnya, sih?

“Ngapain lo?” tanya Jerome dengan sinis. Merasakan adanya hawa dingin, Mbak Sri langsung bergegas ke dalam, meninggalkan Arka dan “pacar Kalani” sendirian.

“Lo yang ngapain ke sini?”

“Dih, berani ya lo—”

“Arshaka?” masuk suara baru.

Kalani berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sulit dibaca, namun satu yang pasti, ia terlihat gelisah. Kedua lengannya bersedekap membungkus tubuhnya sendiri, dan ia terlihat menjaga jarak dari kedua cowok. Kalani bahkan tidak bisa menatap Arka terlalu lama.

“Gue nggak ngira lo jadi ke sini,” gumam si gadis, “Sorry gue nggak bales chat, pusing banget liat HP.”

“Nggak apa-apa, Kalani,” jawab Arka seraya menyodorkan kantung berisi desserts. “Nih, gue jadi bawain. Dimakan, ya. Gue pulang dulu.”

Saat itulah Kalani mendongak, menatap Arka sepenuhnya. Dahinya mengernyit. “Kok buru-buru?”

“Lo tuh istirahat aja, Kalani,” sergah Jerome sebelum Arka sempat menjawab. “Biarin aja dia pulang, gue juga mau pulang.”

Arka mengangguk, kali ini setuju dengan saran Jerome. “Iya, gue nggak mau ganggu. Istirahat, ya? Bye.

Mungkin ia akan menyesal telah terburu-buru. Mungkin ia akan menyesal telah meninggalkan Kalani tanpa memastikan apakah gadis itu baik-baik saja. Dan mungkin ia akan sangat menyesal telah mengalah pada Jerome. Tapi sejujurnya, jika Mbak Sri mengira Jerome adalah pacar Kalani, mungkin memang itulah kenyataannya. Biar bagaimana pun, Mbak Sri yang lebih tahu keadaan di rumah Kalani ketimbang Arka. Mungkin saja Jerome memang sering berkunjung sebagai pacar.

Entahlah. Bisa benar, bisa salah. Yang jelas, Arka sedang malas ribut. Maka ia pun segera berbalik badan tanpa menunggu respon keduanya.