Si Tukang Bunga

Teriknya matahari membuat Lana harus berhenti sesaat. Kedua lengannya ngilu setelah menenteng tas-tas belanja di sepanjang Evripidou Street tanpa henti, masuk dan keluar dari satu toko ke toko lainnya. Sifatnya yang impulsif dalam hal belanja menjadi beban untuk hari ini, dan dalam akal sehatnya, Lana tahu ia harus berhenti.

Ia menemukan sepetak taman yang menyediakan bangku-bangku kayu untuk beristirahat. Masih ada secercah keberuntungan baginya hari ini karena taman tersebut cukup sepi, membuatnya bebas memilih di mana akan duduk. Tak jauh dari tempatnya, ada sebuah pohon besar yang daun hijau mudanya bergerombol lebat. Sangking besarnya, pohon tersebut cocok dijadikan kanopi alam oleh seorang pelukis pinggir jalan.

Rasa ingin tahunya membuncah, alhasil belum lama ia duduk, ia sudah kembali berdiri. Ia mendekat ke pelukis, dan ia menyadari ada satu pelanggan yang sedang dijadikan objek. Lana terkejut, tiba-tiba berhenti. Matanya memicing tajam untuk memastikan apa yang ia lihat benar—dan memang, pelanggan tersebut merupakan sosok laki-laki yang ia kenal. Jauh-jauh dari Indonesia ke Yunani, Lana tetap saja berurusan dengan Teja.

Ya, Teja. Pegawai satu-satunya di Fleurs en Fleurs, toko bunga mungil yang berseberangan dengan toko buku milik Lana. Mereka kenal satu sama lain, pernah beberapa kali keluar untuk makan siang bersama, dan selalu mengobrol tiap malam lewat aplikasi chatting.

Lana hendak menyerukan nama Teja ketika matanya menangkap kanvas yang sedang digarap oleh si pelukis, dan posturnya berubah kaku. Melihat apa yang di kanvas, pikiran Lana lari ke seorang secret admirer yang telah menemani paginya selama kurang lebih empat bulan belakangan. Secret admirer. Terdengar sangat konyol ketika Nadie, sahabatnya, mengutarakan sebutan itu. Namun Lana sadar, tidak ada sebutan lain yang lebih pas.

Selama empat bulan, sebuket bunga akan sampai di depan pintu tokonya tiap pagi. Tidak hanya bunga warna-warni yang mengisi buket tersebut, melainkan juga sebuah foto pemandangan atau tempat wisata disertai satu atau dua kalimat pendukung. Foto pemandangan yang dikirim pun tidak random, melainkan yang memiliki skema warna sama dengan bunga-bunganya.

Seminggu yang lalu, Lana mendapat sebuket penuh bunga tulip berwarna merah muda, hijau muda, oranye, ungu, serta biru. Foto yang terselip adalah aurora borealis dengan garis-garis cahaya berwarna sama—atau paling tidak hampir sama—dengan surat bertuliskan, “Aurora borealis udah basi buat dibahas. Tapi gue suka bunganya. Semoga lo juga.

Hati Lana menghangat mengingat itu. Dan ya, terakhir ia mendapat kiriman adalah seminggu yang lalu. Bu Azalea, pemilik toko bunga, pun mulai bekerja sendirian dari seminggu yang lalu karena pegawainya—tak lain dan tak bukan adalah Teja—mengambil cuti. Jantung Lana berdebar semakin kencang.

Ia semakin panik ketika melirik kanvas lagi. Kanvas tersebut tidak berisikan pemandangan atau bahkan sosok Teja yang sedang duduk tenang di hadapan sang pelukis. Kanvas tersebut hanya berisi torehan-torehan cat dengan skema warna di sekitar Teja. Ada toko sepatu bernuansa abu-abu dan merah di sebelah kiri. Ada banyak kios jajanan di belakang Teja dengan tema gerobak yang sama, yaitu warna putih. Ada toko tas kulit di samping kanan dengan bangunan bernuansa hijau dan krem. Ada pula langit biru cerah serta teriknya sinar matahari yang melengkapi atmosfer sore ini. Dan terakhir, di tengah kanvas, ada semburat abstrak warna-warni hitam, biru, dan putih—persis seperti nuansa pakaian yang Teja kenakan. Semua itu tidak berwujud suatu objek, hanya warna.

Sinting, sinting, sinting. Sinting, anjing.

Lana pun mencoba berpikir logis. Tokonya buka pukul sembilan, dan bisa dipastikan ia sampai di toko satu atau satu setengah jam sebelumnya. Fleurs en Fleurs buka pukul 7.30, yang otomatis mengharuskan Teja untuk datang jauh lebih pagi dari Lana. Kiriman selalu sudah ada ketika ia sampai, jadi sudah jelas si pengirim harus meletakkannya pagi-pagi buta.

Kepala Lana berubah pening.

Teja? Teja si tengil yang selalu jajanin gue kapan pun gue ngeluh laper tengah malem? Teja si tengil yang kalau udah bokek bakal bokek banget, tapi kalau banyak duit selalu dihamburin? Teja? Teja dari seberang?

Lana terus melamun di tengah jalan hingga akhirnya sebuah suara memecah kabut di otaknya.

“Lana?” Teja. Itu suara Teja. “Lana? Lana! Astaga, woy, emang kita kayaknya jodoh.”

Dibilang jodoh dengan Teja di saat Lana sedang mencurigainya membuat gadis itu semakin pusing. Ia ingin kabur.

Keep the change. Thanks.” Lana mendengar Teja berbicara dengan si pelukis sebelum mengambil langkah lebar menghampirinya. Senyumnya terukir cerah di hadapan Lana, dan gadis itu semakin ingin kabur saja. “Ngelamun aja lo. Gila, gila! Kok bisa ketemu, sih? Kenapa lo nggak bilang ada rencana ke sini juga?”

Gue lagi patah hati, Ja. Gue kabur ke sini. Sayang aja gue terlalu cupu buat cerita tentang Dillon. Tapi kalau lo beneran 'penggemar' gue, gue makin nggak bisa cerita dong, ya?

Lana berdalih, “Kado. Tiketnya kado dari temen.”

Teja terbahak. “Lah, sama! Sebulan yang lalu gue iseng ikut giveaway, terus menang. Ya kali gue bisa ke sini bayar sendiri.”

“Keren.”

Canggung, itulah yang Lana rasakan sekarang. Ia masih tidak yakin, dan akan sangat memalukan jika tebakannya salah, namun ia sudah tidak kuat. Gadis itu ingin langsung menembakkan puluhan pertanyaan dan tuduhan kepada Teja, paham betul bahwa bisa saja laki-laki tersebut belum siap. Hal terakhir yang Lana ingin lakukan adalah memaksa Teja, tapi egonya menang kali ini.

“Ja...” gumamnya, yang sedetik kemudian ia sesali.

“Eh, lo kenapa? Muka lo merah banget. Panas banget, ya? Ayo jalan sambil cari tempat—”

“Teja.” Si empunya nama menatap si gadis, Lana pun menelan ludah dengan susah payah. “Teja, gue mau tanya.”

“Oke?”

“Jangan bohong.”

“Gue pernah bohong?”

Lana menggeleng lemah, hatinya berdegup tidak karuan. “Just in case.

“Nggak. Gue nggak pernah dan nggak akan pernah bohong. Apa?”

“Lo...” rasanya Lana ingin menangis karena malu, tapi sekarang atau tidak sama sekali. “Teja... lo suka sama gue?”

Lana berekspektasi Teja akan menyemburkan tawa kencangnya, menunjuk wajah Lana yang merah padam dan terbahak hingga sakit perut. Tapi tidak. Ekspresi Teja berubah tegang, matanya menatap Lana lebih intens.

“Lana...”

“Iya, Ja? Lo yang selalu kirimin gue bunga? Iya?”

Fuck.