Taman
Ketika Kalani menginjakkan kakinya di taman, ingin rasanya ia berlari mencari Arka. Tapi gadis itu tahu bahwa sikap seperti itu bisa dinilai berlebihan, dan ia tidak ingin Arka merasa tidak nyaman. Amarah akan kelakuan teman-temannya sudah lama mereda, bahkan walaupun ia ingin cepat-cepat melihat Arka, tidak dapat dipungkiri bahwa ia sedikit malu. Malu karena memiliki “teman-teman” dengan sikap buruk, dan malu karena saat di kantin ia lebih banyak diam. Kalani tahu ia tidak lemah, namun apa yang terjadi di kantin cukup mengejutkannya sehingga ia hanya bisa menyaksikan.
Alasan mulu lo, Al.
Kalani menemukan Arka duduk menghadap ke area taman yang lebih rimbun. Ia bersandar santai, kepalanya menunduk ke arah ponsel. Dari tempatnya berdiri, Kalani dapat melihat noda merah tercetak jelas di seragam putih Arka. Ada hoodie di sampingnya, namun entah mengapa cowok tersebut tidak mengganti kemejanya dengan itu.
“Arka,” gumam Kalani, mendekat. “Hai.”
Si empunya nama mendongak, senyuman tipis ia lemparkan. “Hei.”
“Nih,” Kalani menyodorkan paperbag berisi kaos milik ayahnya yang ia simpan di loker. Gadis itu memang selalu sedia baju untuk berjaga-jaga, dan alasan ia selalu mencuri kaos ayahnya adalah karena ukurannya yang nyaman. “Tenang aja, itu punya Papi, jadi pasti muat buat lo.”
Arka memandang paperbag itu dengan ragu, matanya lari antara tas dan Kalani. “Gue ada hoodie, kok. Emang belum gue pakai, nanti aja.”
“Lepas aja kemejanya, Ka, biar nanti hoodie-nya nggak ikutan kotor. Terus pakai kaosnya buat daleman, biar nggak kena angin pas naik motor. Hoodie lo pasti oversized, kan? Kalau nggak ada daleman, nanti kulit lo keekspos.”
Arka bergeming. Kalani merasa gemas, apa susahnya untuk berdiri dan sembunyi di balik pohon untuk ganti? Apa badan Arka tidak merasa lengket setelah terkena cairan kental jus sejak siang tadi?
“Woy, malah ngelamun,” gertak si gadis. “Buruan, ih. Badan lo nggak lengket, apa?”
“Nggak apa-apa?”
“Hah?”
“Ini gue pinjem. Nggak apa-apa?”
Kalani memutar matanya. “Banyak omong. Buruan ganti.” Arka tidak punya pilihan lain selain menurut, daripada suara bising Kalani terus mengisi gendang telinganya. Namun baru saja berdiri, si gadis berseru, “Eh, bentar! Gue lupa. Sini, nunduk. Gue bawa air buat bersihin rambut lo.”
“Hah—”
“Kebiasaan ya lo, lama,” decaknya, “Cepetan. Lo tuh nggak gatel atau apa gitu? Astaga, ini masih lengket gini. Lo ngilang dari siang ngapain aja? Kenapa nggak bersih-bersih? Kalau gue jadi lo mah mending pulang. Eh, tapi tas lo di gue, ya? Kunci juga di tas? Ya paling nggak melipir ke toilet dulu, dibersihin ini rambut sama mukanya. Dari tadi lo cuma duduk di sini? Ngapain? Merenung? Main HP? Nggak habis baterainya? HP lo apaan sih kok awet? Punya gue tuh—Astaga, ini gue kira upil, ternyata biji jambu. Dih, ini biji jambu ngapain melenceng ke kuping? Ini juga—”
Arka yang sedang setengah membungkuk langsung meremas lembut pinggang gadis yang menjulang di sampingnya tersebut, membuat yang bersangkutan memekik kaget dan alhasil menumpahkan sisa air ke badan Arka.
“Arshaka!” jeritnya. “Wah, bener-bener! Mau ngapain lo?!”
“Berisik.”
Cowok itu kembali menegakkan badannya sementara si gadis berdiri agak jauh, satu tangannya memegang botol kosong dan satunya lagi mencengkeram dadanya.
“Lo berisik, ngoceh mulu. Ini udah selesai?” Kalani hanya bisa mengangguk lemah sebelum akhirnya Arka melenggang untuk mencari tempat ganti.
Anjing, jerit Kalani dalam hati, Yang bener aja, masa pinggang gue disentuh?! Perut gue kenapa juga, nih? Astaga, nih muka panas bener. Gue kenapa, hah?! Arshaka sialan.
Setelah beberapa menit, Arka berjalan kembali ke tempat mereka dengan kaos biru dongker serta kemeja kotor di lengannya. Ia menggamit hoodie-nya untuk dikenakan, dan beberapa detik kemudian, ia sudah terlihat jauh lebih bersih.
Tidak lupa, rambut basahnya yang tersibak ke belakang membuat wajah Kalani semakin memanas.
Pulang, Kalani, pulang. Lo nggak boleh mati sekarang.
“Puas?” Arka merentangkan tangannya. Dalam hati, Kalani semakin mengutuk cowok di hadapannya itu. Arka ganteng banget, brengsek. “Nggak usah nugas dulu, ya? Pulang aja. Lo sama siapa?”
Nggak tahu, Ka, nggak tahu. Tapi ya kali gue udah di ambang kewarasan gini mau nebeng lo. Ogah.
“A-ada, tenang aja. Supir Papi udah di jalan.”
“Oh. Serius nggak mau bareng?”
“Hm,” gumamnya tidak jelas. Namun kemudian sesuatu terbersit di otaknya. “Wait. Gue mau minta maaf dulu.”
“Hah?”
“Buat yang di kantin.”
“Bukan salah lo.”
“Emang, tapi gue diem aja, nggak lebih gercep buat nolongin. Maaf, Ka.”
Arka menghela napas berat, ditatapnya Kalani dengan intens. “Kalani, gue aja belum bilang makasih buat kaos sama tas gue. Makasih, makasih banyak. Lo nggak perlu minta maaf atau ngerasa nyesel karena gue paham sama posisi lo. Lagian, temen-temen lo udah brengsek dari sananya. Gue yakin mau lo nyembah di kaki Jerome juga dia nggak bakal lepasin gue. So you're fine, don't worry.“
“But still—“
“Minta maaf sekali lagi dan gue bakal lepasin tugas kita.”
“Arka!” reflek, Kalani memukul lengannya. “Awas lo, ya!”
Yang dipukul hanya tergelak. “Makanya diem. I'm fine, you're fine, we're fine. Udah, ah, gue capek. Mau gue temenin nunggu supir?”
“Eh, n-nggak. Lo duluan aja, gue mau nunggu di perpus.”
“Alright. Sekali lagi makasih, Kalani. Hati-hati.”
“Lo juga.”
Saling lempar senyuman lembut, keduanya pun berpisah.