Sasha

You brought your world and pulled me into it. Now you become my world.” —Dillon Abrisam.

Lana mencoba untuk tenang. Sudah beberapa kali ia mengembuskan napas, sedikit kesusahan untuk meredam rasa panik. Apa pula yang ditakutkan? Ia akan bertemu Dillon, laki-laki yang telah mewarnai hari-harinya selama kurang lebih tujuh bulan, dan mereka akan meluruskan hubungan apa pun yang mereka jalani saat ini. Lana tidak seharusnya panik.

Mungkin lo takut kalau Dillon ujung-ujungnya balik sama Laisha.

Ia mengerang sebal akan pikirannya sendiri.

Diem lo, otak.

Mencoba flashback ke bulan-bulannya bersama Dillon, Lana berpikir bahwa kisah cintanya kali ini memang agak rumit. Bisa berkenalan dengan model papan atas seperti pemuda itu saja sudah syukur, ditambah ternyata mereka bisa berteman dekat dan punya perasaan lebih. Masa lalu Dillon yang rumit bersama Laisha menjadi penghalang besar bagi Lana untuk tetap percaya diri, dan sudah terbukti bahwa terkadang Dillon tidak bisa bersikap tegas dengan mantannya tersebut.

Itulah yang menyebabkan Lana kabur ke Yunani dan menemukan fakta bahwa penggemar rahasianya adalah temannya sendiri.

“Hei,” muncul sebuah suara dari belakang. Tubuh Lana berubah kaku, namun ia tetap menunjukkan ekspresi tenang ketika menoleh dan menghadap Dillon yang tersenyum manis di belakangnya. “Udah nunggu lama, ya? Sorry, tadi pemotretannya agak molor.”

“Nggak apa-apa,” gumamnya. “Gue juga belum lama di sini.”

Suasana berubah canggung. Ini kali pertama mereka bertemu lagi setelah dua minggu Lana mencoba menghilang dari radar si lelaki. Apalagi ketika ia kabur, Lana tidak menggubris satu pun pesan atau panggilan dari Dillon. Ada sedikit rasa bersalah, namun Lana sadar bahwa ia butuh ketenangan sebelum dapat memutuskan apa-apa.

“Jadi... gimana kamu sama si secret admirer?” tanya Dillon tanpa basa-basi.

Lana tergelak pelan, tidak percaya bahwa ini topik pertama yang akan mereka mulai. “Nggak gimana-gimana. Kita tetep temenan baik, dia juga nggak menjauh atau gimana.”

“Emangnya siapa? Tetangga yang kamu maksud itu siapa?”

“Tahu toko bunga di seberang, nggak?” Dillon mengangguk, Lana melanjutkan, “Dia pegawai di sana, kita kenal, temenan baik juga. Namanya Teja.”

“Pantesan.”

“Pantesan apa?”

Dillon tersenyum tipis. “Ya pantesan ngirim bunga terus. Ternyata emang dia ahlinya. Terus gimana ceritanya bisa ketemu di Yunani?”

“Kalau itu emang nggak sengaja. Gue confront dia masalah secret admirer juga nggak sengaja. Pas gue lihat dia pertama kali, dia lagi ngelakuin sesuatu yang vibes-nya mirip sama si secret admirer.

“Apa?”

Dan Lana pun menceritakan segalanya. Dimulai dari bagaimana mereka bertemu, bagaimana Teja yang awalnya kesulitan untuk menjawab “iya” namun tidak ingin berkata “tidak” pula, bagaimana belum sempat Teja mengkonfirmasi namun Lana sendiri sudah kepalang semangat karena gadis itu begitu menyukai ide brilian Teja, dan bagaimana akhirnya Teja menjelaskan semuanya.

Teja, yang baru dua tahun belakangan bekerja di Fleurs en Fleurs, mulai tertarik dengan Lana sejak gadis itu mengambil alih usaha toko buku kakek dan neneknya sembilan bulan lalu. Teja, yang pendiam awalnya, berubah menjadi “parasit” ketika sudah jauh lebih nyaman dengan Lana—yang notabene tidak sulit mengingat Lana hanya perlu memberinya makanan gratis setiap jam makan siang, dan Teja akan dibuat luluh. Dan Teja, yang awalnya tidak pernah membalas pesan atau panggilan dari Lana karena malas memegang ponsel, akhirnya menjadi satu-satunya pembuat onar setiap malam karena tidak bisa berhenti mengganggu me-time gadis itu.

Teja, yang begitu baik dan tulus, namun tidak pernah dilirik oleh Lana.

Teja, si penggemar rahasia dengan usaha tiada tandingan, pun tidak pernah dilirik oleh Lana.

“Lana...” lirih Dillon, “Lana, jangan merasa nggak enak. Bukan salah kamu.”

“Tapi, Dil—”

Hey, listen,” selanya, “Jawab jujur, sebelumnya, apa kamu pernah kepikiran buat suka sama Teja? Buat ada di suatu hubungan sama dia? Sebelumnya, dengan kebaikan dia kayak gitu, apa kamu pernah ngerasa jatuh?”

“N-nggak...”

“Terus menurut kamu, apa adil kalau sekarang kamu cari-cari alasan buat bales perasaan dia? Yang sebelumnya kamu nggak lihat masa depan sama dia, terus sekarang kamu ngulik otak buat bikin dia nggak kecewa. Adil? Buat diri kamu sendiri dan buat Teja?” Lana bergeming, Dilon melanjutkan, “Aku ngomong gini bukan karena aku mau kamu pilih aku, Lana. Tapi yang aku denger tentang Teja dari kamu barusan, he sounds like a very genuine guy. You wouldn't want to hurt him by being with him out of pity. Dan kalau kamu butuh waktu lebih buat mikir, nggak apa-apa.”

Lana tetap diam.

Udah capek mikir, dari kemarin gue menghindar juga buat apa kalau bukan buat mikir?

“Lo bener...” gumamnya setelah waktu lama.

“Hm?”

“Lo bener, Dillon.” Lana mendesah berat, “Gue emang nggak ada rasa buat Teja, nggak pernah ada. Waktu dia ngaku, perasaan gue lebih ke kecewa karena nggak bisa peka. Bahkan waktu belum ketahuan siapa si secret admirer, gue juga nggak terlalu mikirin dia. Gue cuma mikirin kiriman-kirimannya yang cantik. Gue egois, ya?”

No.” Sergah Dillon tajam. “Nggak, Lana, kamu nggak egois. Apa pun yang bikin kamu berpikir untuk nyalahin diri sendiri, buang. Kalau kamu nerima dia hanya karena nggak enak dan kasihan, itu nggak adil buat Teja. Aku tahu kamu merasa bersalah, dan aku nggak expect kamu bakal 'sembuh' cepet, but please know that it was never your fault.

Gadis tersebut mengangguk lemah, menerima semua yang keluar dari mulut Dillon. Lagipula, jika boleh percaya diri sedikit, Lana tahu Teja tidak pernah mempermasalahkan apa pun. Setelah Teja mengaku, laki-laki tersebut cepat-cepat menambahkan bahwa Lana tidak perlu membalas perasaannya. Lana tidak perlu merasa bersalah dan tidak enak. Lana tidak perlu mengubah sikapnya kepada Teja. Lelaki tersebut hanya ingin pertemanan mereka tetap sama.

“Gue juga tahu lo deket sama si model,” tambah Teja sambil menyengir kuda, “Tiap malem disamperin, dibantu beres-beres toko. Padahal gue yakin dia sibuk. Tiap weekend juga sarapan bareng di kafe sebelah. Gue tahu, Lana. Gue paham.”

“Terus kenapa lo nggak berhenti? Kenapa nggak cari orang lain yang lebih pantes dapet perlakuan spesial dari lo? Teja, usaha lo nggak ada yang ngalahin. Dillon aja nggak bisa ngalahin. Lo pantes dapet yang lebih dari gue.”

“Sabar kali, neng. Semuanya butuh proses. Biarin gue nikmatin yang sekarang. Kan yang penting gue sadar posisi gue di mana, makanya gue nggak ada ekspektasi tinggi, dan makanya gue nggak ngelak pas ketangkap basah gini. Dan makanya... kita bakal baik-baik aja, Lana. Gue yang jamin itu.”

Mengingat percakapan tersebut, Lana kembali ingin menangis.

“Hei, hei,” Dillon menyentuh dagunya agar ia mendongak, “Jangan nangis, Lana. You're gonna be fine.

With you?” Lana menggigit bibir bawahnya setelah pertanyaan itu lolos. Dillon tampak terkejut. “Sorry, gue nggak—”

Of course with me,” Dillon tersenyum, “Tapi kita ngobrol dulu ya, Lan? Aku butuh jelasin beberapa hal, dan kamu harus denger. Aku nggak mau kamu salah paham lagi.”

“Oke.”

“Soal Laisha... kita mantan. Kamu tahu itu. Dia masih ngejar aku, kamu tahu itu. Aku nggak tegas sama dia, masih suka ngeladenin dia... kamu juga tahu itu. Tapi, Lana, kamu sama dia beda. Dia gandeng tangan aku pas dikejar media, kamu tarik tangan aku sambil jadi tameng. Dia dateng ke aku pas aku dapet banyak sponsor brand, kamu dateng ke aku pas aku ngeluh tumpukan cucian segunung.

Dia mau diajak keluar kalau aku lagi free aja karena artinya dia bebas buat nentuin tujuannya, kamu mau diajak keluar kapan aja, bahkan lebih suka yang spontan. Dan masih banyak lagi, Lana. Dia ada karena pekerjaan aku, karena kita hidup di dunia yang sama. Kamu... kamu kayak dateng dari dunia lain, my own safe haven. Kalau sama kamu, aku jadi lupa kalau aku model yang sering kena gosip A-Z. Aku jadi lupa kalau sebenernya aku capek sama duniaku sendiri. You brought your world and pulled me into it. Now you become my world.

“Dillon...”

“Laisha udah balik ke Jepang. Aku nggak pernah—belum sempet—cerita kalau keluarga dia di Jepang, sekarang dia balik ke sana. Aku lega. I'm finally with you, dan aku lega.”

Tetes demi tetes air mata menuruni pipi Lana.

Gue lega juga, Dillon.

I'm all yours now, Lana. Will you be mine?

“Dillon, g-gue...” ia tercekat, emosinya terlalu naik-turun sehingga yang ia inginkan sekarang adalah dipeluk. Dipeluk oleh Dillon. Dillon yang dicintainya. Pipi Lana semakin banjir air mata ketika ia berseru, “Just hug me, you dammit!

Gelak lembut lolos dari bibir Dillon. Direngkuhnya gadis tersebut, dan dalam sekejap, mereka tahu semuanya akan baik-baik saja.

Ketika Kalani menginjakkan kakinya di taman, ingin rasanya ia berlari mencari Arka. Tapi gadis itu tahu bahwa sikap seperti itu bisa dinilai berlebihan, dan ia tidak ingin Arka merasa tidak nyaman. Amarah akan kelakuan teman-temannya sudah lama mereda, bahkan walaupun ia ingin cepat-cepat melihat Arka, tidak dapat dipungkiri bahwa ia sedikit malu. Malu karena memiliki “teman-teman” dengan sikap buruk, dan malu karena saat di kantin ia lebih banyak diam. Kalani tahu ia tidak lemah, namun apa yang terjadi di kantin cukup mengejutkannya sehingga ia hanya bisa menyaksikan.

Alasan mulu lo, Al.

Kalani menemukan Arka duduk menghadap ke area taman yang lebih rimbun. Ia bersandar santai, kepalanya menunduk ke arah ponsel. Dari tempatnya berdiri, Kalani dapat melihat noda merah tercetak jelas di seragam putih Arka. Ada hoodie di sampingnya, namun entah mengapa cowok tersebut tidak mengganti kemejanya dengan itu.

“Arka,” gumam Kalani, mendekat. “Hai.”

Si empunya nama mendongak, senyuman tipis ia lemparkan. “Hei.”

“Nih,” Kalani menyodorkan paperbag berisi kaos milik ayahnya yang ia simpan di loker. Gadis itu memang selalu sedia baju untuk berjaga-jaga, dan alasan ia selalu mencuri kaos ayahnya adalah karena ukurannya yang nyaman. “Tenang aja, itu punya Papi, jadi pasti muat buat lo.”

Arka memandang paperbag itu dengan ragu, matanya lari antara tas dan Kalani. “Gue ada hoodie, kok. Emang belum gue pakai, nanti aja.”

“Lepas aja kemejanya, Ka, biar nanti hoodie-nya nggak ikutan kotor. Terus pakai kaosnya buat daleman, biar nggak kena angin pas naik motor. Hoodie lo pasti oversized, kan? Kalau nggak ada daleman, nanti kulit lo keekspos.”

Arka bergeming. Kalani merasa gemas, apa susahnya untuk berdiri dan sembunyi di balik pohon untuk ganti? Apa badan Arka tidak merasa lengket setelah terkena cairan kental jus sejak siang tadi?

“Woy, malah ngelamun,” gertak si gadis. “Buruan, ih. Badan lo nggak lengket, apa?”

“Nggak apa-apa?”

“Hah?”

“Ini gue pinjem. Nggak apa-apa?”

Kalani memutar matanya. “Banyak omong. Buruan ganti.” Arka tidak punya pilihan lain selain menurut, daripada suara bising Kalani terus mengisi gendang telinganya. Namun baru saja berdiri, si gadis berseru, “Eh, bentar! Gue lupa. Sini, nunduk. Gue bawa air buat bersihin rambut lo.”

“Hah—”

“Kebiasaan ya lo, lama,” decaknya, “Cepetan. Lo tuh nggak gatel atau apa gitu? Astaga, ini masih lengket gini. Lo ngilang dari siang ngapain aja? Kenapa nggak bersih-bersih? Kalau gue jadi lo mah mending pulang. Eh, tapi tas lo di gue, ya? Kunci juga di tas? Ya paling nggak melipir ke toilet dulu, dibersihin ini rambut sama mukanya. Dari tadi lo cuma duduk di sini? Ngapain? Merenung? Main HP? Nggak habis baterainya? HP lo apaan sih kok awet? Punya gue tuh—Astaga, ini gue kira upil, ternyata biji jambu. Dih, ini biji jambu ngapain melenceng ke kuping? Ini juga—”

Arka yang sedang setengah membungkuk langsung meremas lembut pinggang gadis yang menjulang di sampingnya tersebut, membuat yang bersangkutan memekik kaget dan alhasil menumpahkan sisa air ke badan Arka.

Arshaka!” jeritnya. “Wah, bener-bener! Mau ngapain lo?!”

“Berisik.”

Cowok itu kembali menegakkan badannya sementara si gadis berdiri agak jauh, satu tangannya memegang botol kosong dan satunya lagi mencengkeram dadanya.

“Lo berisik, ngoceh mulu. Ini udah selesai?” Kalani hanya bisa mengangguk lemah sebelum akhirnya Arka melenggang untuk mencari tempat ganti.

Anjing, jerit Kalani dalam hati, Yang bener aja, masa pinggang gue disentuh?! Perut gue kenapa juga, nih? Astaga, nih muka panas bener. Gue kenapa, hah?! Arshaka sialan.

Setelah beberapa menit, Arka berjalan kembali ke tempat mereka dengan kaos biru dongker serta kemeja kotor di lengannya. Ia menggamit hoodie-nya untuk dikenakan, dan beberapa detik kemudian, ia sudah terlihat jauh lebih bersih.

Tidak lupa, rambut basahnya yang tersibak ke belakang membuat wajah Kalani semakin memanas.

Pulang, Kalani, pulang. Lo nggak boleh mati sekarang.

“Puas?” Arka merentangkan tangannya. Dalam hati, Kalani semakin mengutuk cowok di hadapannya itu. Arka ganteng banget, brengsek. “Nggak usah nugas dulu, ya? Pulang aja. Lo sama siapa?”

Nggak tahu, Ka, nggak tahu. Tapi ya kali gue udah di ambang kewarasan gini mau nebeng lo. Ogah.

“A-ada, tenang aja. Supir Papi udah di jalan.”

“Oh. Serius nggak mau bareng?”

“Hm,” gumamnya tidak jelas. Namun kemudian sesuatu terbersit di otaknya. “Wait. Gue mau minta maaf dulu.”

“Hah?”

“Buat yang di kantin.”

“Bukan salah lo.”

“Emang, tapi gue diem aja, nggak lebih gercep buat nolongin. Maaf, Ka.”

Arka menghela napas berat, ditatapnya Kalani dengan intens. “Kalani, gue aja belum bilang makasih buat kaos sama tas gue. Makasih, makasih banyak. Lo nggak perlu minta maaf atau ngerasa nyesel karena gue paham sama posisi lo. Lagian, temen-temen lo udah brengsek dari sananya. Gue yakin mau lo nyembah di kaki Jerome juga dia nggak bakal lepasin gue. So you're fine, don't worry.

But still—

“Minta maaf sekali lagi dan gue bakal lepasin tugas kita.”

“Arka!” reflek, Kalani memukul lengannya. “Awas lo, ya!”

Yang dipukul hanya tergelak. “Makanya diem. I'm fine, you're fine, we're fine. Udah, ah, gue capek. Mau gue temenin nunggu supir?”

“Eh, n-nggak. Lo duluan aja, gue mau nunggu di perpus.”

Alright. Sekali lagi makasih, Kalani. Hati-hati.”

“Lo juga.”

Saling lempar senyuman lembut, keduanya pun berpisah.

Teriknya matahari membuat Lana harus berhenti sesaat. Kedua lengannya ngilu setelah menenteng tas-tas belanja di sepanjang Evripidou Street tanpa henti, masuk dan keluar dari satu toko ke toko lainnya. Sifatnya yang impulsif dalam hal belanja menjadi beban untuk hari ini, dan dalam akal sehatnya, Lana tahu ia harus berhenti.

Ia menemukan sepetak taman yang menyediakan bangku-bangku kayu untuk beristirahat. Masih ada secercah keberuntungan baginya hari ini karena taman tersebut cukup sepi, membuatnya bebas memilih di mana akan duduk. Tak jauh dari tempatnya, ada sebuah pohon besar yang daun hijau mudanya bergerombol lebat. Sangking besarnya, pohon tersebut cocok dijadikan kanopi alam oleh seorang pelukis pinggir jalan.

Rasa ingin tahunya membuncah, alhasil belum lama ia duduk, ia sudah kembali berdiri. Ia mendekat ke pelukis, dan ia menyadari ada satu pelanggan yang sedang dijadikan objek. Lana terkejut, tiba-tiba berhenti. Matanya memicing tajam untuk memastikan apa yang ia lihat benar—dan memang, pelanggan tersebut merupakan sosok laki-laki yang ia kenal. Jauh-jauh dari Indonesia ke Yunani, Lana tetap saja berurusan dengan Teja.

Ya, Teja. Pegawai satu-satunya di Fleurs en Fleurs, toko bunga mungil yang berseberangan dengan toko buku milik Lana. Mereka kenal satu sama lain, pernah beberapa kali keluar untuk makan siang bersama, dan selalu mengobrol tiap malam lewat aplikasi chatting.

Lana hendak menyerukan nama Teja ketika matanya menangkap kanvas yang sedang digarap oleh si pelukis, dan posturnya berubah kaku. Melihat apa yang di kanvas, pikiran Lana lari ke seorang secret admirer yang telah menemani paginya selama kurang lebih empat bulan belakangan. Secret admirer. Terdengar sangat konyol ketika Nadie, sahabatnya, mengutarakan sebutan itu. Namun Lana sadar, tidak ada sebutan lain yang lebih pas.

Selama empat bulan, sebuket bunga akan sampai di depan pintu tokonya tiap pagi. Tidak hanya bunga warna-warni yang mengisi buket tersebut, melainkan juga sebuah foto pemandangan atau tempat wisata disertai satu atau dua kalimat pendukung. Foto pemandangan yang dikirim pun tidak random, melainkan yang memiliki skema warna sama dengan bunga-bunganya.

Seminggu yang lalu, Lana mendapat sebuket penuh bunga tulip berwarna merah muda, hijau muda, oranye, ungu, serta biru. Foto yang terselip adalah aurora borealis dengan garis-garis cahaya berwarna sama—atau paling tidak hampir sama—dengan surat bertuliskan, “Aurora borealis udah basi buat dibahas. Tapi gue suka bunganya. Semoga lo juga.

Hati Lana menghangat mengingat itu. Dan ya, terakhir ia mendapat kiriman adalah seminggu yang lalu. Bu Azalea, pemilik toko bunga, pun mulai bekerja sendirian dari seminggu yang lalu karena pegawainya—tak lain dan tak bukan adalah Teja—mengambil cuti. Jantung Lana berdebar semakin kencang.

Ia semakin panik ketika melirik kanvas lagi. Kanvas tersebut tidak berisikan pemandangan atau bahkan sosok Teja yang sedang duduk tenang di hadapan sang pelukis. Kanvas tersebut hanya berisi torehan-torehan cat dengan skema warna di sekitar Teja. Ada toko sepatu bernuansa abu-abu dan merah di sebelah kiri. Ada banyak kios jajanan di belakang Teja dengan tema gerobak yang sama, yaitu warna putih. Ada toko tas kulit di samping kanan dengan bangunan bernuansa hijau dan krem. Ada pula langit biru cerah serta teriknya sinar matahari yang melengkapi atmosfer sore ini. Dan terakhir, di tengah kanvas, ada semburat abstrak warna-warni hitam, biru, dan putih—persis seperti nuansa pakaian yang Teja kenakan. Semua itu tidak berwujud suatu objek, hanya warna.

Sinting, sinting, sinting. Sinting, anjing.

Lana pun mencoba berpikir logis. Tokonya buka pukul sembilan, dan bisa dipastikan ia sampai di toko satu atau satu setengah jam sebelumnya. Fleurs en Fleurs buka pukul 7.30, yang otomatis mengharuskan Teja untuk datang jauh lebih pagi dari Lana. Kiriman selalu sudah ada ketika ia sampai, jadi sudah jelas si pengirim harus meletakkannya pagi-pagi buta.

Kepala Lana berubah pening.

Teja? Teja si tengil yang selalu jajanin gue kapan pun gue ngeluh laper tengah malem? Teja si tengil yang kalau udah bokek bakal bokek banget, tapi kalau banyak duit selalu dihamburin? Teja? Teja dari seberang?

Lana terus melamun di tengah jalan hingga akhirnya sebuah suara memecah kabut di otaknya.

“Lana?” Teja. Itu suara Teja. “Lana? Lana! Astaga, woy, emang kita kayaknya jodoh.”

Dibilang jodoh dengan Teja di saat Lana sedang mencurigainya membuat gadis itu semakin pusing. Ia ingin kabur.

Keep the change. Thanks.” Lana mendengar Teja berbicara dengan si pelukis sebelum mengambil langkah lebar menghampirinya. Senyumnya terukir cerah di hadapan Lana, dan gadis itu semakin ingin kabur saja. “Ngelamun aja lo. Gila, gila! Kok bisa ketemu, sih? Kenapa lo nggak bilang ada rencana ke sini juga?”

Gue lagi patah hati, Ja. Gue kabur ke sini. Sayang aja gue terlalu cupu buat cerita tentang Dillon. Tapi kalau lo beneran 'penggemar' gue, gue makin nggak bisa cerita dong, ya?

Lana berdalih, “Kado. Tiketnya kado dari temen.”

Teja terbahak. “Lah, sama! Sebulan yang lalu gue iseng ikut giveaway, terus menang. Ya kali gue bisa ke sini bayar sendiri.”

“Keren.”

Canggung, itulah yang Lana rasakan sekarang. Ia masih tidak yakin, dan akan sangat memalukan jika tebakannya salah, namun ia sudah tidak kuat. Gadis itu ingin langsung menembakkan puluhan pertanyaan dan tuduhan kepada Teja, paham betul bahwa bisa saja laki-laki tersebut belum siap. Hal terakhir yang Lana ingin lakukan adalah memaksa Teja, tapi egonya menang kali ini.

“Ja...” gumamnya, yang sedetik kemudian ia sesali.

“Eh, lo kenapa? Muka lo merah banget. Panas banget, ya? Ayo jalan sambil cari tempat—”

“Teja.” Si empunya nama menatap si gadis, Lana pun menelan ludah dengan susah payah. “Teja, gue mau tanya.”

“Oke?”

“Jangan bohong.”

“Gue pernah bohong?”

Lana menggeleng lemah, hatinya berdegup tidak karuan. “Just in case.

“Nggak. Gue nggak pernah dan nggak akan pernah bohong. Apa?”

“Lo...” rasanya Lana ingin menangis karena malu, tapi sekarang atau tidak sama sekali. “Teja... lo suka sama gue?”

Lana berekspektasi Teja akan menyemburkan tawa kencangnya, menunjuk wajah Lana yang merah padam dan terbahak hingga sakit perut. Tapi tidak. Ekspresi Teja berubah tegang, matanya menatap Lana lebih intens.

“Lana...”

“Iya, Ja? Lo yang selalu kirimin gue bunga? Iya?”

Fuck.

Siang itu keadaan kantin di sekolah Pelita Jaya II terlihat normal. Kios pecel lele milik Bu Dian tampak ramai seperti biasa. Stan kecil milik Mas Wahyu yang menjual aneka jajanan pasar pun tidak luput dari beberapa murid yang rindu pastel atau risol atau ketan srikaya. Kios minuman satu-satunya di kantin milik Pak Ridwan pun terlihat penuh sesak oleh segerombolan cowok dengan atribut basket juga beberapa bola mereka yang kerap kali menggelinding entah ke mana dan mengenai siapa.

Kalani sudah biasa dengan pemandangan seperti ini.

“Mau es jeruk atau es teh, Al?” tanya Jerome setelah meletakkan semangkuk bubur ayam di hadapan si gadis. “Tapi agak lama, ya? Anak basket lagi barbar.”

“Nggak usah, Jer, lo duduk aja. Nanti gue beli sendiri.”

“Sekalian ajalah, anjir. Gue juga mau beli. Buruan, apa?”

“Air putih aja, deh. Nggak dingin. Thanks.

’Kay.

Lama Kalani hanya duduk seorang diri sambil mencoba tidak terpaku pada gosip seru yang adik-adik kelas di dekatnya lontarkan, ia membuka notebook yang kebetulan ia bawa ke kantin. Jari-jarinya lari ke halaman yang berisi idenya bersama Arka, dan sebuah senyum simpul terukir pada bibirnya. Siapa sangka ia begitu menikmati waktu yang dihabiskan bersama cowok pendiam itu?

“Woy,” celetuk Bella dari belakang, “Senyum-senyum sendiri... kesambet, awas.”

“Apaan, sih,” Kalani tergelak. Ia menoleh dan mendapati “rombongan” mereka telah sampai. Ada Bella, Donna, Nakula, serta Hilman. “Don, novel gue mana? Mau gue kasih ke Arka.”

Kalani mendengar Hilman mendengus mendengar nama Arka terselip keluar. Sebenarnya, jika bukan karena Jerome yang terobsesi dengan Kalani, gadis tersebut tidak mungkin bisa berteman baik dengan Nakula dan Hilman. Well, itu pun kalau hubungan mereka bisa disebut benar-benar “baik.” Nakula sedikit lebih baik di antara mereka bertiga, sedangkan Jerome dan Hilman... tidak perlu ditanya.

“Arka gimana, Al?” tanya Nakula. Nadanya terdengar santai, tidak terkesan mengejek seperti Hilman. “Baik?”

Kalani mengangguk. “Anaknya baik, pinter kok cari ide. Udah lebih warming up juga kalau udah kenal gini.”

“Bagus, deh. Gue kira dia bakal diem aja terus lo yang bakal capek kerja.”

Salah satu hal yang Kalani suka dari Nakula adalah sikap cueknya, mungkin bahkan menjurus ke dingin. Seringkali apa yang keluar dari mulutnya terdengar pedas dan sarkastik, namun Nakula adalah orang yang jujur dan apa adanya. Jika dia tidak suka seseorang, dia akan bilang, dan tentu saja dengan alasan. Cowok itu tidak seperti kedua sahabatnya yang membenci Arka hanya karena menjadi pribadi yang terlalu diam di kelas.

“Ngomongin Si Culun, ya?” cibir Jerome yang tiba-tiba muncul. “Gimana progres lo, Al? Beneran mulus? Gue nggak percaya.”

Kalani tergelak kecut. “Percaya atau nggak mah urusan lo, Jer. Let's see whose compilation book is gonna be the best.

Nah, babe, I believe yours will be the best. Yang nggak gue percaya kan kinerja Si Culun aja.”

Kalani hanya memutar mata. Tidak ada rasa kesal lagi dalam dirinya untuk teman-temannya yang ignorant ini, hanya rasa lelah.

Speaking of Si Culun,” ucap Donna sembari meletakkan novel Kalani di atas meja, “tuh, dia lagi antre di Mbak Caca.”

Enam pasang mata pun berlari ke sosok Arka. Cowok itu sedang mengulurkan uang, dan senyum tipis pun ia tujukan kepada Mbak Caca setelah mendapat kembalian.

Kemudian, sesuatu terjadi.

Woy, Arka!” itu pertama kalinya Jerome memanggilnya dengan nama asli setelah ia sendiri yang menciptakan sebutan “Si Culun.” Perasaan Kalani tidak enak. Lebih tidak enak lagi ketika Arka menoleh. Tumben sih noleh? Ah elah, Ka, pergi aja. Jerome menyeringai, berdiri. “Tumben nih ngantin? Sini, sini. Gabunglah, jangan sombong lu.”

“Jer—”

“Sinilah, Ka, lo kan udah sering main sama Ala. Sama kitalah sekali-kali.”

Arka hanya bergeming tak jauh dari meja mereka. Posisi Arka yang tak jauh namun juga tak dekat mengharuskan Jerome untuk sedikit berteriak, dan itu sukses menarik sejumlah perhatian. Kalani mencoba memberi sinyal pada Arka agar ia pergi saja, namun gadis itu tidak yakin bahwa Arka menangkapnya. Apalagi fokus si cowok telah sepenuhnya pada Jerome.

“Berisik lu, cepet makan,” sergah Nakula yang beberapa detik sebelumnya bertemu pandang dengan Kalani. “Mau masuk, woy.”

Namun Jerome tidak peduli. “Nama lo Arka, kan? Kok gue panggil nggak nyahut, sih?”

“Jerome—”

“Eh, motor lo baru ya, Ka?” tanya Jerome absurd. “Tadi gue lihat di parkiran nggak kayak biasanya. Cie, motor baru.”

“Katrok lu, Jer,” celetuk Nakula santai.

Jerome melanjutkan, “Finally ya, Ka? Motor lo yang lama udah nggak aman gitu, takutnya—”

“Bisa diem, nggak?” Kalani berdiri, menarik siku Jerome agar cowok tersebut menoleh dan fokus pada dirinya. “Makan. Berisik.”

“Lah, gue kan lagi ngobrol sama Si Culun,” sergah Jerome. “Eh, sini deketan, anjir. Kayak apaan aja ngomongnya teriak-teriak gini. Gue mau tanya dong soal progres tugas lo sama Ala. Katanya lo numpang nama doang, ya? Kudu dikejar dulu baru mau nugas, iya?”

Keriuhan kantin mendadak berhenti. Segalanya terasa sunyi-senyap. Kalani menatap Jerome tak percaya, matanya membelalak. Sedangkan Arka... cowok itu mengambil langkah lebar untuk menghadap Jerome. Kalani melirik ke arah kedua tangannya yang telah terkepal erat, matanya memicing tajam.

Ulangi,” desisnya. Jerome hanya tersenyum meremehkan. “Repeat. Bahasa mana yang lo nggak paham?”

“Lah, gue salah? Ala sendiri yang bilang.”

“Jerome, jangan gila!” pekik sang gadis. “Arka... nggak, Ka. Gue nggak ada bilang gitu.”

Easy,” gumam Arka tanpa menatap Kalani barang sedetik, fokusnya masih terpaku pada Jerome. “Gue paham Jerome cuma bacot nggak jelas. Gabut banget?”

Belum sempat Jerome membalas, Hilman bangkit sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Kalani terlalu lambat untuk memahami situasi, sehingga saat cairan jus jambu membasahi Arka, Kalani hanya bisa menahan pekikan frustasi.

Oops,” Hilman menyeringai. “Lo yang bacot, anjing. Freak.

Kantin kembali pecah. Ada yang terbahak, ada yang melontarkan puluhan kata kasar kepada Jerome serta Hilman, ada yang melempar cacian untuk Kalani dan teman-temannya yang lain karena hanya diam... dan lain-lain. Kalani terlalu terkejut dengan apa yang terjadi. Ini semua sudah keterlaluan. Teman-temannya memang tidak pernah membiarkan Arka tenang sejak kelas sepuluh, tapi biasanya hanya verbal. Kalani tidak tahu harus apa sekarang.

“Arka...”

Si empunya nama bergeleng kepala, memotong apa saja yang akan keluar dari bibir si gadis. Ia menunduk, tetesan jus jambu meluncur dari rambutnya mengenai bagian tubuhnya yang lain. Desahan napas panjang lolos dari bibirnya.

Hati Kalani sakit.

Kemudian Arka berbalik badan dan pergi.

“Arka!”

Tawa Hilman menghentikan kaki Kalani untuk mengejar teman sekelompoknya itu.

“Cupu banget, anjing. Gitu aja kabur,” lanjut Hilman di sela-sela tawa. “Eh, Jer, geledah tasnya, yuk? Dia pasti nggak ke kelas dulu soalnya kudu bersih-bersih. Ambil tugas geografinya. Biar dia—”

Kalani tidak menetap untuk mendengar rencana jahat mereka. Berhubung kantin sedang penuh sesak, ia mengambil kesempatan itu untuk menyelinap di antara murid-murid dan bergegas ke kelas. Jika sebelumnya ia tidak mampu membantu Arka, mungkin kali ini bisa. Semoga ia berhasil menyelamatkan tas teman barunya itu.

Maafin gue, Ka...

Kalani menggerutu dalam hati ketika Arka tak kunjung datang. Masalahnya, mata pelajaran pertama mereka pagi ini adalah Sosiologi, yang mana gurunya terkenal killer. Kalani, yang memang terkenal teladan, tidak pernah punya masalah dengan Pak Satria, dan gadis itu ingin mempertahankan reputasi baik tersebut.

“Kak, belum berangkat?” Nia, ibu Kalani, berjalan menghampiri gadisnya dari dapur sambil membawa secangkir teh yang mengepul. “Jam segini biasanya macet banget. Nggak apa-apa?”

“Arka lama, Mi,” gerutu Kalani. “Padahal biasanya dia rajin. Nyebelin.”

“Kamu sama Arka ada sesuatu, Kak?”

Hah?” Kalani seketika menoleh ke arah Nia yang dengan santai menyesap tehnya. Ibunya tersebut terlihat biasa saja, tidak ada tatapan penuh curiga atau goda. Tetap saja, Kalani merasa panik tanpa alasan. “Maksud Mami?”

“Kamu sama Arka... cuma temen atau lagi PDKT?”

“Dih, to the point banget, nih?” cibir Kalani. “Aku sama Arka tuh sekelompok selama satu semester. Kalau kita makin deket tuh berarti bonus doang.”

“Suka sama dia, nggak?”

“Mami! Apaan, sih.” Dapat dirasakan wajahnya memanas, dan sejujurnya Kalani takut akan alasan di baliknya. “Ya sukalah, orang dia baik. Dia emang pendiem, tapi seru juga punya temen kayak Arka.”

You know that's not what I meant, Kak,” goda sang ibu, “Tapi ya udah, kalau kamu belum siap cerita, Mami nggak akan maksa. Baik-baik ya sama Arka? Mami juga suka sama dia.”

Mami ada-ada aja, batin Kalani, Ketemu sama Arka juga baru sekali, udah main suka aja.

Kalani hendak melayangkan protes untuk yang ke sekian kalinya, namun Mbak Sri memotong obrolan mereka dengan pengumuman bahwa Arka sudah di depan. Buru-buru kabur dari hadapan Nia, Kalani pun berlari kecil menyusul seseorang yang beberapa hari ini ia hindari.

“Hei,” sapa Arka lembut.

“Hai.”

Perjalanan mereka berjalan canggung. Arka sibuk menyelip sana-sini di tengah kemacetan dan Kalani sibuk dengan isi kepalanya. Ia ingin berkeluh-kesah kepada Arka seperti tiap kali mereka berkendara bersama, namun Kalani masih tidak enak hati akibat kesalahpahaman kecil mereka waktu itu.

Yakin, salah paham kecil? batin Kalani mengejek diri sendiri.

Lama mereka hanya saling diam, tiba-tiba Kalani menyadari sesuatu. Mereka melenceng jauh dari jalan menuju sekolah, dan pikiran Kalani lari ke mana-mana.

Arka dendam banget sama gue?

Arka mau culik gue ke mana, anjir?

Masa iya dia belum puas mukul Jerome? Gue mau diapain?

Pikiran-pikiran aneh tersebut setia menemaninya hingga akhirnya mereka sampai di Danau Arka. Ya, berhubung Kalani tidak tahu nama danau tersebut, ia memutuskan untuk menyebutnya Danau Arka. Di satu sisi, Kalani dapat mengembuskan napas lega karena cowok itu tidak membawanya ke tempat asing. Namun di sisi lain, ia heran mengapa Arka mau repot-repot lewat jalan lain demi bermain “rahasia-rahasiaan” dengannya.

Dan di sisi yang lain lagi, Kalani memekik terkejut ketika ia sadar bahwa mereka sedang bolos.

“Arka!” jeritnya tertahan. Si empunya nama hanya mengernyit. “Lo gila, ya?! Lo ngajak gue bolos di mata pelajarannya Pak Satria?!”

“Sekali-kali, Kalani,” jawabnya enteng seraya melepas helm. “Yuk.”

“Yak, yuk, yak, yuk,” gerutu Kalani yang pada akhirnya tetap mengikuti Arka. “Reputasi gue, Arka. Astaga...”

“Lo peduli masalah gituan?”

“Gue peduli karena ini Pak Satria, ya. Kalau guru lain mah biarin aja.”

“Sekali doang, ya elah. Gue mau nunjukin sesuatu, dan ini adanya hari ini aja.”

“Pasti nggak penting.”

Arka hanya mengedikkan bahu. “Buat gue sih emang nggak penting karena gue nggak suka. Nggak tahu deh ya buat lo...”

Kalani yang awalnya berjalan di belakang Arka pun berhenti sesaat. Matanya memicing tajam ke arah punggung bidang cowok berambut hitam tersebut. Apa maksud Arka?

“Kalani?” Arka berbalik, barangkali merasa bahwa langkah kaki gadis tersebut tidak lagi terdengar di belakangnya. “Kenapa berhenti?”

“Lo mau ngapain, Ka?”

“Dih, dibilangin gue mau nunjukin sesuatu.”

Matanya kembali memicing. “Awas ya aneh-aneh.”

Ck, nggak percayaan banget sih lo.”

Rasanya malas mengikuti alur permainan Arka. Hati Kalani juga masih tidak enak ketika mengingat “pertikaian” mereka. Bagaimana pula Arka bisa bersikap santai seolah mereka baik-baik saja? Apakah Arka menganggap sikap cuek Kalani selama beberapa hari belakangan itu hal yang wajar? Dan juga, untuk alasan yang Kalani belum pahami, ia tidak suka saat Arka mengira ia dan Jerome pacaran. Arka salah. Kalani itu single. Arka tidak boleh salah paham—dilarang salah paham.

Dih, suka-suka dia dong, Ala.

Tadaaa...” Arka berhenti di dekat salah satu gazebo kecil yang terlihat biasa saja. Senyum lebarnya terukir cerah, kedua lengannya terentang, rambut hitamnya yang tertimpa helm menghasilkan poni lucu pada dahinya—itu semua menghasilkan sesuatu yang berdesir di dalam dada Kalani.

Namun kebingungannya lebih mendominasi kali ini. “Not tryna be rude, but... what am I supposed to see?

Arka mengerjap sesaat, kedua lengannya terjatuh, dahinya mengernyit gemas—Kalani hampir saja menghambur ke pelukannya karena merasa tidak enak.

“Itu... lo nggak lihat ada petak bunga matahari?”

Mendengar nama bunga kecintaannya, mata Kalani mengikuti jari telunjuk Arka. Dan benar saja, ada sepetak kecil tanah yang ditumbuhi bunga matahari yang sedikit tersembunyi di balik rerumputan liar.

Kaki Kalani secara otomatis mendekat, dan belum sempat ia mengeluarkan sepatah kata, Arka mendahuluinya, “Sebelum lo tanya, iya, emang itu bunga-bunganya udah kering. Kebetulan gue selalu contact-an sama salah satu penjaga di sini, namanya Pak Dwi. Waktu itu Pak Dwi bikin status di WA nunjukin bunga-bunga mataharinya. Terus gue minta tolong beliau buat chat gue kalau bunga-bunganya udah pada kering, which is suprisingly cepet juga. Dan, ya... here we are now.

Kalani merasa tercekat, ia tidak tahu harus merespon seperti apa. Fakta bahwa Arka mengingat hal-hal sepele tentangnya—bunga matahari dan bunga kering—serta fakta bahwa tidak peduli walaupun mereka sempat berselisih paham, cowok itu tetap menjalankan rencananya. Apa yang ia rencanakan dengan Pak Dwi pasti sudah cukup lama—mungkin beberapa hari setelah kunjungan pertama Kalani ke danau ini? Yang jelas, saat ini Kalani hanya ingin kabur dan menangis haru.

Kok lo gini sih, Ka? lirihnya nelangsa dalam hati.

“Kalani, lo nggak suka, ya?” Arka terdengar cemas, dan lagi-lagi keinginan untuk memeluk teman barunya tersebut muncul. “Maaf kalau ini terkesan nggak jelas. Tadinya gue mau ajak pas bunga mataharinya masih fresh, tapi percuma juga nggak bisa dipetik. Kata Pak Dwi, yang kering ini boleh lo ambil. Jadi gue—”

Arka bungkam sepenuhnya.

Tubuh Kalani menabrak tubuhnya. Kedua lengan sang gadis melingkari leher Arka erat-erat. Satu tangan mengusap punggungnya dan satu tangan mengusap tengkuknya. Diam-diam, Kalani mencoba menghirup aroma cowok itu, mencoba untuk mencari ketenangan yang selama ini ia rasakan setiap kali mereka berdekatan.

“Arka...”

Ia bisa merasakan kedua lengan Arka mulai naik untuk merengkuh pinggangnya. Pelukan keduanya mengerat, dan tanpa sadar, Kalani mengembuskan napas yang tak sengaja ia tahan.

“Ka...”

“Kalani...” Arka berbisik parau, menempelkan bibirnya pada pucuk kepala si gadis. “Sama gue terus, ya?”

“Gue nggak pacaran sama Jerome.”

Keduanya terdiam setelah bersuara bersamaan. Arka menegang, Kalani meleleh di tempat.

“Iya.”

“Iya.”

Kalani tergelak pada keselarasan mereka yang kedua kalinya tersebut. Sedangkan Arka? Ia sibuk menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Kalani seolah memang di sanalah ia seharusnya berada.

Arka telah duduk di atas motornya selama hampir lima menit tanpa melakukan apa pun. Ia bimbang apakah menjenguk Kalani merupakan tindakan berlebihan atau tidak. Keduanya memang sudah jauh lebih akrab sekarang, bahkan Arka yang awalnya sangat tertutup dapat sedikit terbuka dengan Kalani. Tapi bagaimana jika Kalani salah paham? Bagaimana jika Kalani mencurigai sikap hangat Arka? Cowok itu tidak ingin perasaannya yang mulai aneh terhadap Kalani disadari oleh si gadis.

”...kasihan banget, masa katanya dia mual terus dari pagi? Nggak ada makanan yang masuk.”

“Emang iya? Kita ke sana aja kali, ya? Bawain makanan kesukaannya?”

“Emang boleh? Lagian kita udah ada appointment di salon, Don. Lo tahu sendiri salon itu selalu full booked. Sayang kalau batal.”

“Ah, elah, Bel. Kalau gitu ntar malem langsung ke Kalani, ya?”

“Iya, Donna. Bawel banget. Yuk, ah.”

Obrolan singkat tersebut telah terdengar sepenuhnya oleh Arka, yang mana Donna serta Bella berjalan melewatinya, dan tentunya kedua gadis tersebut tidak mengindahkan kehadiran “Si Culun.” Fakta bahwa keadaan Kalani rupanya sangat tidak baik semakin membuat Arka gelisah, dan pada akhirnya ia memutuskan untuk jadi menjenguk. Mengingat ia sudah berjanji akan membawakan desserts dari toko kue kesukaan Kalani, cowok itu bergegas membeli.

Dan 35 menit kemudian, ia pun telah sampai di depan gerbang rumah teman gadisnya.

Terakhir kali berkunjung, Arka hanya melihat dua mobil di carport luas milik keluarga Kalani, namun kali ini telah terparkir rapi sebuah mobil hitam di depan gerbang. Ia kembali ragu, bagaimana jika ada teman atau kerabat mereka yang datang menjenguk juga?

“Mas Raka, ya?” tanya sebuah suara. Arka mendongak, mendapati salah satu ART Kalani yang waktu itu menjamunya. “Mbak Sri, nih. Ingat, nggak?”

Arka pun tersenyum. “Ingat, Mbak. Oh iya, nama saya Arka.”

“Lah, iya, Mas Arka,” Mbak Sri menepuk dahinya ringan, “Lupa. Maafin, ya. Ada apa ke sini, Mas Arka?”

“Haha, santai, Mbak. Saya mau jenguk Kalani. Dia sakit, ya?”

“Ah, iya, Mas. Kayaknya Mbak Kalani itu kecapekan, sukanya bergadang.”

“Waduh...”

“Eh, masuk dulu, Mas Arka. Sampai lupa nawarin. Ayo, ayo.”

Setelah melepas helm serta memarkir motornya dengan benar, Arka mengikuti Mbak Sri masuk ke dalam. Rasa penasarannya perihal mobil di luar kembali muncul, dan ia rasa ini saat yang tepat untuk bertanya.

“Udah ada yang jenguk Kalani, Mbak?”

“Itu kebetulan di dalem ada pacar Mbak Kalani. Saya pikir Mas Arka tahu.”

“Pacar?” Arka seketika bergeming. Lagi-lagi sebuah perasaan aneh muncul, namun kali ini berbeda. Perasaan aneh yang kali ini terasa asing, membuatnya sesak, dan sama sekali tidak ada rasa hangat yang menyelimuti dadanya. “Kalani nggak bilang sih, Mbak. Kalau boleh tahu, siapa—”

“Lah, ada Si Culun.”

Suara itu, geram Arka dalam hati, Harus banget dia yang ada di sini? Kok gue juga nggak ngeh mobilnya, sih?

“Ngapain lo?” tanya Jerome dengan sinis. Merasakan adanya hawa dingin, Mbak Sri langsung bergegas ke dalam, meninggalkan Arka dan “pacar Kalani” sendirian.

“Lo yang ngapain ke sini?”

“Dih, berani ya lo—”

“Arshaka?” masuk suara baru.

Kalani berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sulit dibaca, namun satu yang pasti, ia terlihat gelisah. Kedua lengannya bersedekap membungkus tubuhnya sendiri, dan ia terlihat menjaga jarak dari kedua cowok. Kalani bahkan tidak bisa menatap Arka terlalu lama.

“Gue nggak ngira lo jadi ke sini,” gumam si gadis, “Sorry gue nggak bales chat, pusing banget liat HP.”

“Nggak apa-apa, Kalani,” jawab Arka seraya menyodorkan kantung berisi desserts. “Nih, gue jadi bawain. Dimakan, ya. Gue pulang dulu.”

Saat itulah Kalani mendongak, menatap Arka sepenuhnya. Dahinya mengernyit. “Kok buru-buru?”

“Lo tuh istirahat aja, Kalani,” sergah Jerome sebelum Arka sempat menjawab. “Biarin aja dia pulang, gue juga mau pulang.”

Arka mengangguk, kali ini setuju dengan saran Jerome. “Iya, gue nggak mau ganggu. Istirahat, ya? Bye.

Mungkin ia akan menyesal telah terburu-buru. Mungkin ia akan menyesal telah meninggalkan Kalani tanpa memastikan apakah gadis itu baik-baik saja. Dan mungkin ia akan sangat menyesal telah mengalah pada Jerome. Tapi sejujurnya, jika Mbak Sri mengira Jerome adalah pacar Kalani, mungkin memang itulah kenyataannya. Biar bagaimana pun, Mbak Sri yang lebih tahu keadaan di rumah Kalani ketimbang Arka. Mungkin saja Jerome memang sering berkunjung sebagai pacar.

Entahlah. Bisa benar, bisa salah. Yang jelas, Arka sedang malas ribut. Maka ia pun segera berbalik badan tanpa menunggu respon keduanya.

The wishes are all the same. There’s no way I want something bad for you. So whatever you wish for, please go think about it now, and know that I’m here aamiin-ing everything.

Dear J,

Happy Birthday!

You know I’m not good with words, and you know I’m not good at expressing lovey-dovey stuff, so I’m gonna keep this short.

Actually, thanks to your mom for giving birth to you. This world needs someone like you. People need someone like you. I’ve said this before, that I didn’t think we’d be close if it weren’t for a certain circumstance. But I’m glad we met, I’m glad we got closer and closer each day. Enjoy today. Enjoy the new age. Keep being you—the hard-working, humble, kind, sweet, cheery, annoying, pain-in-the-ass girl.

I’m giving this to you as a symbol, I’m NOT expecting a return. Hopefully the warm cardigan can keep away your cold days, but then again, if you ever have a cold day, just come to me.

If I loved you less, I might be able to talk about it more.

Sincerely, Nisa.


P.S. Sorry suratnya bukan tulis tangan kayak biasanya. Kalau mau, bilang aja, InsyaAllah kutulisin. Tapi buat yang pertama ini, aku cuma pengen suratku rapi dan tertata ahaha... so here it is.

Bohong namanya jika Arka tidak merasa gugup. Ia tidak mengerti bagaimana ia bisa seberani itu untuk mengajak seorang Kalani “keluar.” Arka cukup tahu diri bahwa jika disandingkan dengan Kalani, ia bukanlah siapa-siapa. Namun pertanyaan Kalani beberapa waktu lalu membuatnya sadar dan memutuskan untuk tidak menahan diri lagi.

Kalau emang lo mikir gue sebaik itu dulu, kenapa mundur? Kenapa jadi nggak mau kenalan lagi? Kalau lo mikir gue sebaik itu, harusnya lo tahu gue bakal nerima lo.

Dan itulah yang Arka putuskan. Ia dengan gegabah membuat rencana last minute untuk mengajak Kalani melepaskan rasa penat. Hanya saja Arka terpaksa harus berbohong. Tempat yang mereka akan tuju bukan sebuah tempat baru, melainkan sebuah danau yang Arka sudah puluhan kali kunjungi kapan pun ia merasa lelah. Ia hanya tidak ingin membuat Kalani salah paham dan berpikir yang macam-macam, yang alhasil akan membuat gadis itu menjauh. Arka tidak mau.

Sorry, udah nunggu lama, ya?” tanya Kalani sembari tergesa-gesa menuruni tangga rumahnya. Lamunan Arka pun buyar. “Lo sih nggak ngabarin kalau mau OTW.”

“Dih,” cibir Arka, “Lo yang kesiangan terus gue yang salah gitu?”

“Hehe.”

“Udah siap, belum? Mau ngapain lagi?”

“Siap!” senyuman Kalani terukir lebar, dan sensasi aneh muncul di dada Arka. “Lo udah ketemu Mami sama Papi, kan? Udah berangkat ya mereka?”

“Iya. Tadi Mami lo yang bukain gerbang, terus mereka langsung cabut.”

“Ya udah, yuk!”

Mereka hanya perlu 20 menit untuk menempuh perjalanan ke “danau pribadi” Arka. Sepanjang perjalanan, Kalani tidak bisa diam. Awalnya Arka merasa risih karena cowok itu sudah terbiasa berkendara dengan tenang, namun ketika Kalani diam, Arka merasa kosong. Ia pun memancing sebuah topik baru dan gadis itu dengan senang hati melanjutkan hingga mereka tiba.

“Ka...”

Arka menoleh dan mendapati mata Kalani berbinar-binar. Danau ini terletak di kawasan perumahan elit, yang anehnya, dibuka untuk umum. Sebenarnya danaunya tidak terlalu luas, namun fakta bahwa danau tersebut terletak di tengah-tengah taman bunga menambah keindahannya. Ada dua pohon besar yang memberi kesan rindang, dan di sekeliling taman terdapat banyak gazebo kecil untuk berteduh. Di sekeliling danau pun ditanami berpetak-petak rumput lembut agar nyaman ketika ditempati. Biasanya, Arka akan berbaring tepat di pinggir danau dengan kaki terulur masuk ke air, sambil ditemani dengan alunan instrumen klasik atau sebuah buku. Ini benar-benar kamar kedua bagi Arka.

“Suka?” tanyanya lembut.

Kalani maju selangkah demi selangkah seraya menikmati pemandangan, sesekali menyentuh bunga warna-warni yang mereka lewati. Gadis itu juga memetik beberapa rumput serta bunga liar yang kemudian diselipkan pada notebook-nya.

“Buat apa?” tanya Arka.

“Gue suka tanaman kering. Kalau yang liar gini lebih lucu biasanya.”

“Cara ngeringinnya gimana? Dibiarin aja gitu?”

“Kalau gue, biasanya cukup diselipin ke buku. Terus simpen aja, terserah berapa lama. Kadang kalau gue lupa, bunganya udah sampai hitam banget,” Kalani tergelak kecil, “Tujuan diselipin di buku juga biar sekalian jadi pembatas, sih. Lumayan. Kayaknya 80% koleksi buku-buku gue ada bunga keringnya. The Binding yang lo pinjem gimana? Ada?”

Posisi Kalani sekarang telah berjongkok di tanah, sambil dengan hati-hati memetik sekumpulan tanaman liar. Ia dengan lembut menepis bunga-bunga yang memang bagian dari taman agar tidak terinjak atau tersentil jemarinya. Melihat itu, sensasi aneh kembali muncul di dalam dada Arka. Ia tidak mengerti apa, namun cowok 18 tahun tersebut seperti tidak bisa berpaling.

“Ka?” Kalani menoleh ke belakang, mendapati Arka memerhatikan sosoknya dengan intens. “Kok diem? Kenapa ngelihatin gue kayak gitu?”

Arka berdeham, telinganya terasa panas.

“Uhm, n-nggak,” gagapnya, “Gue ke sana duluan, ya? Kalau lo masih mau keliling, keliling aja. Gue tunggu di pinggir danau.”

Sambil melepas alas kakinya ketika sudah menemukan spot teduh, mata Arka kembali menangkap sosok Kalani. Gadis itu sedang menulis sesuatu pada notebook-nya masih sambil jongkok. Kardigan kremnya terlihat menyapu tanah, namun ia tidak terlihat peduli. Ketika Kalani bangkit, Arka buru-buru mengalihkan pandangan.

“Gila, enak banget di sini,” Arka mendengar suara Kalani mendekat, “Adem, nyaman banget. Eh, lo lepas sepatu?”

Kalani telah sampai dan langsung mengambil duduk di samping Arka. Mereka terlalu dekat, bahu keduanya saling bergesekan, dan Arka merasa sedikit panik.

“Gue juga, ah. Kayaknya enak main air.”

“Suka banget di sini?” lanjut Arka.

“Banget! Tempatnya teduh, terus yang gue suka adalah taman ini nggak terlalu besar, jadi terkesan excluded gitu. Biasanya emang sesepi ini, ya? Padahal ini weekend, harusnya enak buat refreshing.

“Lo nggak inget kita lagi di mana sekarang? Kalau orang kaya mau refreshing mah tinggal terbang ke Bali.”

Lagi-lagi Kalani mengeluarkan gelak tawanya yang khas, dan Arka harus bergeser demi menciptakan jarak di antara mereka. Baginya, ini sudah terlalu berlebihan. Ada yang salah pada dirinya.

“Lebay. Ya udah, mau ngapain kita? Gue bawa notebook sama novel.”

“Lo nggak tanya gimana gue nemuin tempat ini?” tanya Arka tiba-tiba.

“Dih, mau banget ditanya?”

“Sialan,” Arka terkekeh, “Biasanya kan lo kepo.”

“Heh, Arshaka, kapan gue kepo?”

“Biasanya kalau gue ngilang.”

“Ya itu lo udah nyebutin alasannya. Kalau lo ngilang. Lagian jadi anak aneh banget, suka tiba-tiba nggak ada.”

“Sebelumnya kalau gue nggak ada lo juga nggak notice.

Suasana pun berubah menjadi canggung. Arka tidak berniat untuk berujar sarkastik, namun ia keceplosan. Dapat dirasakan bahwa tubuh Kalani menegang, dan dari ekor matanya, Arka menangkap Kalani sedang menunduk.

Sialan, umpat Arka dalam hati.

“Kalani—”

“Lo tuh kenapa sih, Ka? Lo dendam banget sama gue? Salah gue gitu kalau gue nggak pernah ngajak lo ngobrol?”

“Kalani—”

“Berminggu-minggu kita bareng, gue sadar kalau lo bukan tipe orang pendiam yang nggak bisa bikin topik. Lo juga bukan orang pemalu. Emang dasarnya lo nggak mau nyoba aja, dan sekarang lo ungkit terus.”

“Nggak, Kalani—”

“Gue seneng lo terbuka, gue seneng bisa kenal lebih dalam sama 'Si Culun' yang jadi bahan bully-an sekelas, kadang juga sesekolah kalau Jerome lagi gesrek. Tapi gue nggak seneng kalau lo udah mulai 'bercanda' soal sesuatu yang lo ciptain sendiri.”

Kalimat terakhir Kalani terasa seperti tamparan bagi Arka. Gadis itu benar, Arka sendiri yang memutuskan untuk tidak bergaul dengan siapa pun. Diam-diam, Arka masih menyimpan dendam karena di-bully perihal sepeda pada kelas 10. Padahal, beberapa bulan setelah itu, semuanya terlupakan. Ada beberapa murid yang dengan baik hati mengajak Arka mengobrol atau sekadar pergi ke kantin, tapi Arka selalu menolak dengan ketakutan bahwa mereka hanya kasihan. Pada akhirnya, karena ia dengan “angkuh” menjauh dari teman-temannya, pem-bully-an pun kembali dilakukan. “Si Culun” menjadi nama baru Arka dan nama tersebut terus melekat hingga sekarang kelas 12.

“Maaf,” lirih cowok itu. Tiada hal lain yang bisa Arka ucapkan selain kata maaf. Maaf kepada dirinya sendiri karena menjadi pengecut, dan maaf kepada Kalani karena ia tidak pernah menghargai usaha gadis tersebut untuk membuatnya terbuka. “Maaf.”

“Jangan.”

“Maafin gue, Kalani.”

“Nggak, Arka.” Tegas Kalani. “Gue marah, tapi gue sadar gue nggak bisa nekan lo juga. Maaf.”

Arka seketika menoleh. Hal terakhir yang ia inginkan adalah mendengar permintaan maaf terselip keluar dari bibir teman barunya itu. Teman baru yang dengan cepat menyelinap masuk ke dalam hidup Arka, teman baru yang dengan lancang menciptakan perasaan-perasaan asing dan aneh di dalam diri Arka.

“Bilang maaf sekali lagi, gue cemplungin ke danau.”

Mata Kalani membelalak. “Arshaka!”

Arka terbahak, bersyukur es di antara mereka telah mencair.

“Gue inget kita ada ujian berenang pas kelas 11. Lo nggak pernah ikut kelas olahraga kalau materinya berenang, terus tiba-tiba langsung ujian aja. Malu-maluin banget pas praktik.” Arka tidak bisa menahan gelak tawanya, dan suaranya mengencang ketika mendapati wajah Kalani berubah semerah tomat. “Merah amat mukanya, mbak.”

“Ih, Arka!” Kalani cemberut, dan dada Arka serasa diremas sangking gemasnya. “Diem! Gue malu banget. Mana sampai sekarang gue masih nggak bisa berenang.”

“Hah, serius?!” cowok itu semakin terbahak, menyebabkan Kalani merajuk dan beranjak dari tempat mereka. “Eh, Kalani, ke mana? Oke, oke. Maaf. Sini aja, Kalani.”

“Bodo.”

“Hahaha, bercanda. Sini, ah. Jangan ngambek. I'm sorry.

“Gue mau baca aja di gazebo. Bye, jelek.

“Dih,” Arka tergelak, “Ya udah, gue ikut. Mau nulis puisi.”

“Ya.”

“Jangan ngambek.”

“Ya.”

“Jangan ngambek, cantik.”

Kalani menghentikan langkahnya, berbalik badan, dan mendapati Arka berdiri dengan senyum simpul.

“Nggak usah gitu, Arka.”

“Nggak usah apa, Kalani?”

“Ngomongnya dijaga, ih!”

“Iya, cantik.”

“Arshaka!”

Tawa Arka pun menjadi nyanyian yang mengiringi mereka pagi itu.

His skin suddenly felt like fire against mine, hot and burning. Worry in his eyes was replaced by something so fierce and deep, but I was too afraid to hope.

Ada banyak—terlalu banyak—pertanyaan di kepala Karana. Ia tidak paham apa yang terjadi, namun fakta bahwa Jaehyun ada di Bandung membuat gadis itu melupakan hal lain. Bagaimana bisa pemuda tersebut melakukan ini? Dan sekarang ia sedang bersembunyi di kamar mandi umum, astaga. Di mana para bodyguards-nya? Anggota NCT yang lain? Asisten pribadi atau siapa pun itu? Dan yang lebih penting, mengapa Jaehyun ada di sini?

Jaehyun merupakan seorang idol, tidak seharusnya ia gegabah untuk terbang dari Korea ke Indonesia seperti ini. Bagaimana jika ada yang mengenalinya? Bagaimana jika ada yang mengenali mereka—Jaehyun dan Karana? Semuanya bakal berantakan dan Karana tidak yakin ia siap. Dan bagaimana dengan tunangannya? Sosok tampan tersebut sudah memiliki tunangan namun ia malah di sini, jauh dari rumah. Karana merasa tidak bisa berpikir logis saat ini.

Beberapa saat kemudian, lift telah menyentuh lobi dan Karana segera keluar. Jaehyun tidak perlu memberitahu kamar mandi mana yang ia tempati mengingat hanya ada satu kamar mandi umum di lobi hotel tempat Karana menginap. Karana menduga pria tersebut pasti mengawasi akun media sosialnya, maka dari itu ia bisa tahu tentang kegiatan gadis itu di Bandung selama seminggu ini.

Tepat ketika Karana telah berdiri di depan pintu kamar mandi, ponselnya berdering. Nomor baru Jaehyun menyambut mata Karana sebelum gadis itu akhirnya menjawab.

“Aku di luar,” lirih Karana, “Kamu pakai hoodie, kan?”

“Iya. Keadaan di lobi gimana?”

“Lumayan sepi, cuma ada satu staf sama satu couple. Harusnya sih aman.”

Jaehyun memutus sambungan telepon tanpa sepatah kata lagi. Karana menunggu dengan gelisah. Ini akan jadi pertama kalinya gadis itu bertemu dengan idolanya. Sebelumnya, Karana merasa tenang karena yang ia pikirkan hanyalah keselamatan Jaehyun. Dan sekarang ketika pertemuan mereka sudah di depan mata, rasanya Karana ingin kabur saja.

Terdengar bunyi klik dari dalam, dan menjulanglah Jaehyun di hadapan Karana.

Ia tercekat ketika melihat sosok asli pemuda bersuara bariton tersebut. Jaehyun mengenakan pakaian sederhana—sweatpants hitam, kaus putih di bawah hoodie hijau gelap, topi dan kacamata hitam, serta sebuah ransel—dan bagi Karana, ia terlihat menawan seperti biasanya. Gadis tersebut terlalu kaku untuk bereaksi hingga akhirnya Jaehyun menariknya kembali ke Bumi.

“Kita sama-sama shock, tapi kayaknya kita harus buru-buru jalan,” ujar Jaehyun sedikit panik, “Lanjutin nanti saling tatapnya.”

Pipi Karana pun memanas akibat kalimat terakhir Jaehyun. Gadis itu berpikir, apakah ia akan benar-benar menghabiskan malamnya bersama pemuda itu? Dengan Jaehyun dari NCT? Kira-kira Karana bermimpi apa semalam?

“Ayo, Karana,” Jaehyun menarik pergelangan tangan Karana untuk membawanya ke arah lift. Gadis itu serasa ingin pingsan ketika merasakan jari-jari Jaehyun melingkari kulitnya. “Lantai berapa?”

Bergerak sekaku robot, Karana menekan beberapa tombol yang akan membawa mereka ke tujuan. Di dalam lift, tiada kata serta suara yang mengisi keheningan, dan Karana dapat merasakan jari-jari Jaehyun masih melingkari pergelangannya. Ketika mereka sampai di tujuan, pemuda tersebut segera melepas kontak kulit. Karana tidak pernah merasa selega itu seumur hidupnya.

Dan kemudian segalanya menjadi lebih canggung.

“Maaf,” mulai Jaehyun, “Maaf aku ke sini tiba-tiba.”

Karana tidak tahu harus merespon seperti apa. Lidahnya terlalu kelu untuk berbicara. Baginya, ini semua tidak mungkin nyata. Jaehyun tidak mungkin sedang berada di sini di hadapannya sekarang. Kemudian segalanya—segalanya yang telah mereka lalui selama enam bulan terakhir—mulai menerobos ruang pikiran Karana. Pertama kalinya pemuda tersebut membalas DM-nya, pertama kalinya terjadi kesalahpahaman di antara mereka, pesan pertama dari Jaehyun setelah mereka bertukar nomor—segalanya.

Tiba-tiba, Karana ingin menangis.

“Hei, hei,” Jaehyun melangkah mendekat, namun ketika ia melihat Karana mundur untuk menghindari kontak kulit, pemuda tersebut pun berhenti. “Maafin aku, Karana. Tolong jangan nangis. Aku tahu ini susah dicerna, tapi tolong jangan nangis. Aku nggak bisa lihat kamu kayak gini.”

“Jay...”

“Aku boleh peluk?”

“A-apa?”

“Peluk,” lirih Jaehyun, “Aku boleh peluk kamu?”

Seketika, Karana mendongak dan akhirnya berani menatap mata cokelat indah sang idola. Pemuda tersebut terlihat sama tertekannya, seolah ia ingin langsung menjelaskan segalanya. Namun menjelaskan apa? Karana pun ingin memeluknya, tapi bisakah? Beranikah dirinya? Gadis tersebut merasa akan langsung pingsan jika Jaehyun menyentuhnya, dan itu akan sungguh memalukan.

Sebelum Karana sempat menjawab, Jaehyun secara tiba-tiba merengkuh tubuh gadis tersebut dan menguburnya ke dalam pelukan erat. Tangis Karana pun pecah tepat ketika aroma Jaehyun menginvasi indra penciumannya. Ia terasa nyaman dan hangat, dan Karana tidak berani melepaskan.

Jaehyun meremas lembut pinggang Karana seraya mendesah berat, “Astaga, jadi gini rasanya meluk kamu.”

“Jay,” lirih Karana, “Jangan gitu ngomongnya.”

“Persetan,” ia mengumpat, “Aku kangen kamu. Kita.

“Jay...”

“Maaf, Karana, maaf. Aku nggak tahu gimana jelasinnya, tapi aku minta maaf buat semuanya. Jangan lepasin, ya?”

“Bentar, Jay,” Karana menarik diri sedikit, namun Jaehyun merengkuhnya kembali untuk mengeratkan tautan mereka. Karana mendesah berat, kalah. “Bicara dulu, ya? Kita butuh ngobrol. Aku nggak ke mana-mana, jadi lepasin dulu.”

“Nggak.”

Please.

“Nggak.”

Sebuah ide nakal melintasi benak Karana, namun mungkin ini satu-satunya cara agar dirinya didengar. Karana mengulurkan tangan dan jari-jarinya mulai membelai lembut rambut hitam Jaehyun. Halus dan sedikit basah, mungkin karena hujan di luar. Embusan napas Jaehyun terdengar berat seraya pemuda tersebut mulai menggesekkan hidungnya di ceruk leher Karana.

Brengsek, batin gadis itu.

Karana menghela napas panjang, mencoba untuk tenang.

“J-jangan,” gagapnya.

“Kamu yang mulai,” balas Jaehyun dengan suara dalamnya yang sedikit serak, “Aku suka main-main juga.”

“Aku lagi nggak main,” Karana sedikit terengah, namun ia berhasil mengendalikan diri. “Aku cuma mau ngobrol, Jay. Kamu jangan minta maaf doang, jelasin juga.”

Apa yang keluar dari mulut Karana akhirnya mendapat perhatian Jaehyun. Sang penyanyi akhirnya melepaskan tubuh Karana sebelum menjatuhkan diri ke sofa.

“Berantakan,” ia mengusap wajah tampannya dengan kasar, terlihat frustasi. “Semuanya berantakan. Makanya aku ke sini. Aku mau kabur.”

“Bentar,” Karana bangkit dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil handuk serta bathrobe. Ia juga menyambar sebotol air, jaga-jaga saja. “Lepas dulu semuanya, terus nih pakai bathrobe-nya. Biar nggak masuk angin. Aku buatin teh dulu ya sambil kamu ganti.”

Setelah semuanya selesai, Karana mengambil posisi duduk di belakang Jaehyun untuk mengusap rambut lelaki tersebut dengan handuk agar kulit kepalanya kering. Jaehyun terlihat menikmati kegiatan tersebut, ia pasti kelelahan.

“Jadi?” pancing Karana.

Jaehyun mundur sedikit yang menyebabkan Karana harus membuka kakinya sedikit lebar, alhasil sekarang posisi Jaehyun adalah bersandar pada gadis itu. Karana merasa cemas, mengingat posisi mereka sedikit terlalu intim, namun otaknya terasa kosong melompong sehingga ia tidak mampu protes.

Jaehyun menghela napas panjang. “Tahu, nggak, kalau manajemen di Korea sama buruknya kayak di negara lain? Mereka suka drama sama manipulasi, dan aku sempat kena imbasnya.”

“Sempat?“

“Sempat,” ia mengangguk. “Masih inget Kim?”

“Mantan asisten kamu yang dulu bales DM aku itu? Yang bikin salah paham?”

“Iya,” Jaehyun mengangguk lagi, “Udah aku pecat, kan? Bahkan udah lama, sekitar enam bulan yang lalu, tapi dia masih punya power. Ternyata, asisten aku yang baru ini berhubungan sama Kim, terus mereka bikin rencana balas dendam ke aku gitu. Ini udah lama banget, tapi Kim masih nggak ikhlas aku pecat. Maksudnya, harusnya dia expect itu, dong? Dia lancang.”

“Oke, oke,” Karana menghentikan celotehan Jaehyun sambil masih mengeringkan rambutnya, “Cukup soal Kim. Jadi, kenapa? Kim sama si asisten baru ngapain?”

“Mereka ngeyakinin pihak SM kalau aku butuh drama, gimik, atau apapun itulah,” Jaehyun mendengus kecut, “Makanya mereka bikin aku tiba-tiba tunangan sama orang. Aku nggak tunangan, Karana.”

Handuk yang ia genggam pun terjatuh dan Karana langsung menjauh dari Jaehyun. Tubuh mereka begitu dekat, terlalu dekat. Kulit Jaehyun tiba-tiba terasa layaknya api yang panas dan menyengat, dan Karana butuh menjauh.

“Tolong duduk dulu,” gagap si gadis, “Tolong, aku butuh space.

Jaehyun sepertinya merasakan bagaimana tubuh Karana sedikit gemetar, sehingga ia langsung bangkit lalu menghadap sang gadis. Kekhawatiran terpatri jelas di mata si pemuda, namun Karana tidak peduli. Otaknya penuh akan kenyataan bahwa selama ini Jaehyun masih sendiri dan tidak terikat dengan siapa pun.

Batinnya berkecamuk, Serius? Ini gue sendirian di kamar sama cowok yang gue suka? Cowok yang gue punya perasaan lebih? Terus dia masih sendiri, sama sekali nggak tunangan? Brengsek. Gue pengin kabur, astaga.

“Karana—”

“Diem—”

“Nggak,” sela Jaehyun, “Aku ke sini karena aku butuh lihat kamu, aku butuh jelasin semuanya. Rasanya sakit waktu aku nyakitin kamu. Aku pengin peluk kamu saat itu juga, Karana. Terus sekarang aku udah di sini, dan aku nggak bakal ke mana-mana. Tahu kenapa? Aku suka kamu. Aku kagum sama kamu. Nggak, nggak. Bukan itu. Aku sayang banget sama kamu. I love you.

Karana menatap Jaehyun dalam-dalam. Ada sesuatu pada ekspresi pemuda itu yang tidak terbaca, yang kemudian ekspresi tersebut berubah jadi lembut. Kekalutan pada mata Jaehyun berubah menjadi sesuatu yang lebih kuat dan dalam, namun Karana takut untuk berharap.

“Aku sayang kamu,” lirih Jaehyun sembari mendekat ke arah Karana. Tubuh tingginya menjulang, kedua lengannya terulur seakan siap untuk merengkuh gadisnya kapan pun Karana siap. “Aku nggak nyangka bakal suka sama penggemar. Bukan karena nggak mau, tapi aku mikirnya pasti bakal ribet. Tapi sama kamu, aku nggak pernah takut buat nyoba. Gimana cara kamu terbuka di DM padahal peluang aku bales itu kecil, bahkan nggak ada. Gimana kamu sabar banget sama aku dan jadwalku yang padat. Gimana kamu selalu ngerti caranya hibur aku. Semuanya ada di kamu, Karana. Aku bersyukur banget bisa punya kamu di hidup aku. Makasih udah mulai semuanya duluan. Makasih buat DM-nya. Makasih.

Ketika bulir air mata pertama jatuh, Jaehyun telah siap untuk memeluk Karana. Ia mendekap gadisnya erat-erat seraya mengecup rambutnya tanpa henti, diiringi dengan bisikan-bisikan lembut penuh cinta. Karana menenggelamkan wajahnya ke dalam ceruk leher Jaehyun, terisak tanpa malu. Dan pada akhirnya, Jaehyun mundur sedikit untuk memberi gadisnya ruang. Pemuda tersebut menatap Karana dengan senyum lebar terpatri pada wajah rupawannya.

Lesung pipinya... astaga, erang Karana dalam hati.

I love you,” bisik Jaehyun untuk ke sekian kalinya. “Banget, banget, Karana. Aku sayang banget sama kamu. Kamu paham, nggak? Sayang banget.”

Karana tergelak, dan seketika wajah Jaehyun berubah cerah mendengarnya. Saat ini, Jaehyun terlihat begitu menawan dan rasanya Karana ingin berteriak bahwa ia merasa tidak pantas mendapatkan sang idola. Namun, Jaehyun telah memilihnya. Dan itu cukup.

And I love you, Jay.

Jaehyun pun mendekat untuk menutup jarak mereka.

His skin suddenly felt like fire against mine, hot and burning. Worry in his eyes was replaced by something so fierce and deep, but I was too afraid to hope.

So many—too many—questions were in my head. I didn't know what was going on, but the fact that Jaehyun was here in Bandung made me forget anything else. How could he do this? And he was hiding alone in a public bathroom, for God's sake. Where were his bodyguards? The other members? Personal assistant or whatever? And the most important question, why was he here?

He was an idol, gosh, he couldn't just fly all the way from Korea to Indonesia like this. What if someone recognized him? What if someone recognized us? Everything would surely go downhill and I didn't think I'd be ready for that. Oh, and how about his fiancé? The handsome guy already had a fiancé and yet here he was with me. I couldn't think straight.

I stepped out of the elevator once I reached the lobby. He didn't need to tell me which bathroom he was in since this hotel only had one bathroom for visitors. Jaehyun must've had his eyes on my account, otherwise he wouldn't know about my updates in Bandung for the past week.

Just in time I got in front of the bathroom's door, my phone rang. Jaehyun's new number flashed before my eyes and I immediately answered.

“I'm outside,” I whispered. “Do you have a hoodie on?”

“Yup. How's the hall?”

“Quite empty. One staff and a couple. We should be safe.”

Jaehyun said no more before ending the call. I waited in an anticipation. This would be my first time seeing my idol in person. I was calm before because the only thing I could think about was his safety. And now that I was about to face him, the urge to just bolt out of this place grew stronger.

Something clicked from inside, and then there he was.

My breath hitched in my throat as I took in his appearance. He was wearing a simple outfit—black sweatpants, a white T-shirt underneath a dark Green hoodie, a black cap, dark glasses, and a backpack—and he looked as gorgeous as ever. I thought I was going to drool if he didn't snap me back to reality with his deep voice.

“We're both in shock right now, but I think we should move,” he said in a hushed voice, “We can continue check out each other later.”

My cheeks were burning because of his words. Was I seriously going to spend the night with him? With the Jaehyun of NCT? What was I dreaming about last night?

“Karana, come on,” he tugged at wrist, dragging me along to the elevator. The feel of his fingers around my skin was something out of this world, I might pass out. “Which floor?”

Moving like a robot, I pressed the button to my floor. We were silent as I felt Jaehyun hadn't let go of my wrist. When we finally got inside of my room, he let go. I never felt that relieved in my entire life.

Then everything turned awkward.

“I'm sorry,” he began, “I'm sorry I came unannounced.”

I didn't know what to say. I was in awe, I was too stunned to speak. This couldn't be real. Jaehyun couldn't be right here in front of me. Then everything—everything that we'd been through for the last six months—started attacking my mind. The first time he replied to my DMs, the first fight, the misunderstanding, the first text from him... everything.

I wanted to cry, suddenly.

“Hey, hey,” he took a step forward, but when I stepped back to avoid touching him, he stopped. “I'm sorry, Karana. But please don't cry. I know this is too much, but please, I can't see you like this.”

“Jay...”

“Can I hug you?”

“W-what?”

“Hug,” he whispered, “Can I hug you?”

That was when I looked up and finally dared to look into those gorgeous brown eyes. He looked as miserable as me, as if he wanted to start explaining the whole thing. But what whole thing? And I wanted to hug him so bad, to feel him in person, but could I? I might pass out and that'd be embarrassing.

Before I could answer, he quickly reached for me and then pulled my body into his embrace. I didn't realize my tears were falling down my cheeks the second his scent hit my senses—but, yes, I was a crying mess by now. He felt so cozy and warm, and I didn't dare to let go.

He squeezed my waist a little before sighing, “God, so this is how it feels to have you in my arms.”

“Jay,” I rasped, “Don't say stuff like that.”

“Fuck it,” he spat, “I missed you. Us.”

“Jay...”

“I'm sorry, Karana, I'm fucking sorry. I don't know how to put it, but I am sorry. Please don't let go.”

“Look, Jay,” I pulled away a little only to be hugged even tighter. I sighed deeply, defeated. “Let's talk, okay? We need it. I'm not going anywhere so you can let go. Come on.”

“Nope.”

“Please.”

“No.”

An idea popped in my mind and I knew this was crazy—insane—but this might get his attention. I ran my fingers through his black hair, slowly caressing it. His hair was soft and slightly wet, probably due to the rain outside. I heard him sigh as he started nuzzling my neck.

What. The. Fuck.

I sucked in a breath, trying to calm down.

“Don't,” I stuttered.

“You started it,” he shot back with a deep, raspy voice. “I like games, too.”

“I'm not playing a game.” I could almost feel myself panting, but I managed to calm down. “I just want to talk, Jay. If you're sorry, don't you think you owe me an explanation?”

That got his attention. Jaehyun finally released me and plopped himself down on the couch.

“It's fucked up,” he harshly rubbed his face in frustration. “Everything's a mess now. That's why I flew here. I wanted to escape.”

“Wait,” I rushed into the bathroom to get him a bathrobe and a towel. I also fetched some water, just in case. “Take everything off and change into this bathrobe. I don't want you catch a cold. I'll make you tea while you change.”

After everything had done, I took a sit behind him as I decided to dry his hair with the towel. I could tell he enjoyed it, he must've been tired.

“So?” I began.

He leaned back a little, and instinctively I spread my legs wider so he ended up in between them, with his back in my chest. This was too intimate but my brain was too empty to protest.

He took a deep breath. “Do you know that Korean managements are as bad as the western's? They all love drama and manipulations, and I was in it.”

Was?

“Was,” he nodded. “Remember Kim?”

“Your past PA who replied to my DMs? Who caused our misunderstanding?”

“Yup,” he nodded again, “I fired her. And, shit, it was a long time ago—six months ago. But her power still lingers. Apparently my current PA is still related to Kim, and they plotted a revenge for me. After all this time, Kim is still salty that I fired her. I mean, fuck that, she was rude to you. She created chaos. She should've seen it coming.”

“Okay, okay,” I stopped him from rambling while still softly drying his hair, “Enough about Kim. So what happened? What did Kim and your new PA do?”

“They convinced the management that I needed some drama,” Jaehyun snorted irritatingly, “That's why they made me 'propose' to someone. I'm not actually engaged, Karana.”

The towel dropped to the floor and I instantly backed away from him. Our body was so close to each other, too close. His skin suddenly felt like fire against mine, so hot and burning that I had to get away.

“Please sit up,” I stammered, “Please, I need some space.”

Jaehyun must've sensed my trembling body that he quickly got up and spun around to check on me. I could see worry in his eyes, but I didn't care. So Jaehyun was still single? He wasn't attached to anyone? I was here, in this damned room, with the man I loved, all alone? And he wasn't engaged? Fuck, I needed to run.

“Karana—”

“Stop—”

“No,” he cut me off, “I'm here because I needed to see you, to explain everything to you. It hurt me hurting you. I wanted to hold you, Karana. And now that I'm here, I'm not going anywhere. Because, yes, I like you. I adore you. Hell, I love you.

I looked up at him. Something unreadable flashed across his face, and then his expression softened. Worry in his eyes was replaced by something so fierce and deep, but I was too afraid to hope.

I love you,” he mumbled, taking a few steps toward me. His body was towering over mine, his arms were out, ready to hold me whenever I'd be ready. “I didn't think I'd fall for fans. Not because fans don't deserve a chance with their idol, but because it'd be complicated to have something special with them. But with you, I was never afraid to try—I never am. How you were willing to open up to me with your DMs although you knew I might never respond, how you were always so patient with me and my crazy schedules, how you were so good at making me feel better. It was—is—all you, Karana. I'm so grateful for having you in my life. Thank you for starting everything first. Thank you for those DMs. Thank you.

When the first tear rolled down, Jaehyun was ready to envelop me in his hug. He held me tight, his arms tightened at the right places. He kissed my hair repeatedly while mumbling sweet-nothings. I buried my face deep in the crook of his neck, crying shamelessly. And at last, he pulled away a little to look intently at my eyes with a widened smile. And those dimples... gorgeous.

“I love you,” he said for the third time. “So, so much, Karana. I love you. I don't think you understand. I love you.

I giggled. His face brightened at that. He was adorable and I wanted to scream that I didn't think I deserved him. But he chose me. He chose me. And I think that was enough.

“And I love you, Jay.”

He leaned in, and then our gap closed.